SMKN 2 Sampit Perkuat Karakter, Literasi, dan Inovasi Lewat Proyek Bernilai Ekonomis

SAMPIT.Indoborneonews.com — Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMK N 2) Sampit yang berlokasi di Jalan Sawit Raya, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan berkarakter, berwawasan global, dan mampu berkarya melalui inovasi nyata.

Kepala SMKN 2 Sampit, Ahmad Arifin, menegaskan bahwa penguatan karakter menjadi fondasi utama dalam sistem pendidikan di sekolah tersebut.

“Di SMK, yang pertama dan paling utama adalah karakter. Bukan prioritas utama lagi, tapi prioritas pertama. Setelah itu literasi dan wawasan global, baru kemudian bagaimana peserta didik mampu berkarya,” ujarnya, Selasa (13/1/2025).

Menurut Arifin, pembuktian kemampuan berkarya tersebut diwujudkan melalui kegiatan kokurikuler, yang sebelumnya dikenal sebagai Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Khusus siswa kelas XI, proyek dilakukan secara berkelompok dengan menghasilkan karya nyata yang memiliki nilai guna, bahkan nilai ekonomi.

Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah produk semir sepatu yang dibuat dari bahan daur ulang, seperti limbah ban dan bahan bekas lainnya. Produk tersebut lahir dari proses literasi dan pengamatan terhadap kebutuhan sekitar.

“Ini contoh inovasi yang melalui proses. Dari keterbatasan dan kekurangan, justru muncul ide. Semir sepatu ini kualitasnya bagus dan saat dipamerkan di expo, pesanan cukup tinggi,” ungkapnya.

Selain semir sepatu, berbagai produk kreatif lain juga dihasilkan siswa sesuai dengan konsentrasi keahlian masing-masing. Dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR), misalnya, siswa menyulap bekas kopling menjadi jam dinding. Ada pula drum oli bekas yang diolah menjadi meja dan kursi, serta filter alat berat yang dimodifikasi menjadi pemanggang ikan.

“Inovasi di SMKN 2 Sampit ada batasannya, yakni harus sesuai dengan konsentrasi keahlian siswa. Jadi bukan asal membuat, tapi relevan dengan kompetensi yang mereka pelajari,” jelasnya.

Untuk mendukung lahirnya inovasi tersebut, sekolah secara konsisten memperkuat budaya literasi. Setiap Selasa hingga Kamis pagi, siswa mengikuti kegiatan literasi yang tidak berfokus pada mata pelajaran, melainkan pada pengembangan wawasan dan pemahaman isu-isu yang menjadi fokus sekolah.

“Literasi ini penting. Bagaimana siswa bisa berinovasi kalau literasinya tidak kuat. Tema literasi kami sesuaikan dengan tren dan kebutuhan sekolah, seperti kesehatan, pengelolaan sampah, dan isu-isu aktual lainnya,” katanya.

Setelah kegiatan literasi, siswa diwajibkan mengisi jurnal literasi yang kemudian direkap setiap bulan oleh pengelola literasi dan perpustakaan sekolah. Sebagai bentuk apresiasi, sekolah memberikan penghargaan dan sertifikat kepada siswa dengan capaian literasi terbaik.

“Apresiasi ini bukan soal besar kecilnya hadiah, tapi sebagai motivasi agar budaya literasi dan inovasi terus tumbuh,” pungkas Ahmad Arifin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *