Jelang Nataru! Penghasilan Turun, Harga Sawit di Kotim Merosot Saat Kebutuhan Pokok Naik

SAMPIT.Indoborneonews.com – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), harapan masyarakat akan meningkatnya kesejahteraan justru berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali turun dan kini berada di kisaran Rp2.500 per kilogram. Padahal beberapa bulan sebelumnya, harga sempat stabil di Rp2.800 per kilogram, bahkan sempat mencapai Rp3.000 per kilogram.

Penurunan harga ini membuat pendapatan petani sawit ikut merosot. Situasi tersebut terasa semakin berat karena bertepatan dengan meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan barang pokok menjelang akhir tahun. Banyak warga mengaku harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah penghasilan yang menurun.

Amer, petani sawit asal Desa Terantang, Kecamatan Seranau mengungkapkan, penurunan harga ini membuat penghasilan petani menurun drastis.

“Sekarang harga sawit turun jadi sekitar Rp2.500 per kilo. Padahal sebelumnya masih stabil di Rp2.800 sampai Rp3.000. Tentu kami merasa berat, apalagi kebutuhan pokok sekarang tinggi, sementara penghasilan turun,” ujarnya, Senin (29/12/2025)

Menurutnya, dengan kondisi ini petani kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampak. Sebagian petani bahkan terpaksa tetap menjual hasil panen meskipun harga rendah karena tidak memiliki pilihan lain. “Mau tidak mau tetap dijual. Kalau ditahan juga tidak mungkin, karena kami butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

Selain itu, penurunan harga sawit ini juga dikhawatirkan dapat memengaruhi perputaran ekonomi masyarakat secara luas. Pendapatan yang menurun membuat daya beli masyarakat ikut melemah.

Warga berharap ada perhatian dari pemerintah maupun perusahaan pengelola sawit agar harga bisa kembali stabil. Mereka berharap ada kebijakan yang dapat melindungi petani, mengingat sawit menjadi penopang utama perekonomian daerah.

“Harapan kami semoga harga kembali normal, minimal tidak terlalu jauh turun seperti sekarang. Kalau bisa ada solusi supaya petani tidak terus dirugikan,” harapnya.

Sementara itu, masyarakat menunggu langkah pemerintah terkait kondisi ini, termasuk kemungkinan adanya penyesuaian kebijakan harga dan pengawasan agar sistem penentuan harga sawit tetap berpihak kepada petani. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *