SAMPIT.Indoborneonews.com — SMK Negeri 4 Sampit yang berlokasi di Jalan HM Arsyad, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus melakukan percepatan transformasi pendidikan dengan mengedepankan pembelajaran berbasis kearifan lokal dan sumber daya alam sekitar.
Kepala SMKN 4 Sampit, Rusliharyanti, menegaskan bahwa inovasi menjadi komitmen utama sekolah dalam menyiapkan lulusan yang adaptif, mandiri, dan siap menghadapi dunia kerja maupun dunia usaha.
“Kami terus berinovasi dan menyinkronkan pembelajaran agar berbasis kearifan lokal dan sumber daya alam yang ada di sekitar tempat tinggal peserta didik. Tujuannya agar anak-anak terbiasa menghargai dan mensyukuri potensi daerahnya,” ujarnya, Senin (12/1/2025)
Ia menjelaskan, paradigma lulusan SMK kini tidak hanya diarahkan untuk bekerja, tetapi juga mampu melanjutkan pendidikan dan berwirausaha. Karena itu, pembelajaran berbasis proyek difokuskan pada pengolahan produk unggulan daerah.
“Dengan pembelajaran berbasis proyek yang bahan bakunya berasal dari potensi lokal, anak-anak akan terpacu membaca peluang usaha. Mereka sudah memiliki keterampilan dan kesiapan diri, tidak hanya menunggu lowongan kerja,” tambahnya.
Sebagai sekolah yang telah memiliki Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD), SMKN 4 Sampit juga berkomitmen melakukan uji coba produk-produk yang bernilai ekonomis. Jika produk tersebut layak dan dapat dipasarkan, maka akan menjadi sumber pemasukan sekaligus sarana pembelajaran nyata bagi siswa.
Salah satu inovasi terbaru adalah pengolahan manisan nanas yang dijadikan materi praktik bagi siswa kompetensi keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP). Nanas dipilih karena merupakan salah satu komoditas lokal Kotim yang kerap melimpah saat musim panen.
“Bahan bakunya kami ambil dari Mentaya Seberang. Kebetulan ada guru kami yang memiliki kebun nanas dengan produksi cukup melimpah, sehingga sangat mendukung pembelajaran,” jelasnya.
Dalam praktiknya, siswa didampingi guru produktif pada mata pelajaran Pengolahan Hasil Pangan Nabati. Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, mulai dari uji coba pengolahan, pengeringan, hingga evaluasi kualitas produk.
“Masih tahap uji coba. Pada percobaan awal, kadar air dan gula masih tinggi. Dari situ guru dan siswa mencari inovasi, misalnya dengan mengurangi kadar air sebelum masuk oven agar hasilnya lebih maksimal,” imbuh Rusliharyanti.
Ke depan, SMKN 4 Sampit berencana mengembangkan berbagai produk olahan lain berbasis potensi lokal, seperti cempedak, nangka dan lainnya, baik dalam bentuk buah kering maupun olahan khas daerah.
Melalui pendekatan ini, SMKN 4 Sampit berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan keterampilan, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan serta kepedulian terhadap potensi daerahnya sendiri. (*)












