Berita Terbaru
Sampah Menumpuk di Pasar Baru Parenggean, Bau Menyengat Ganggu Aktivitas Warga Di Bawah Tekanan Sunyi: Ketika Pers Diuji di Hari Pers Nasional 2026 Gugatan Kriminalisasi Lahan Ditolak, Polda Kalteng Tegaskan Proses Sesuai Hukum Di Bawah Tekanan Sunyi: Ketika Pers Diuji di Hari Pers Nasional 2026 Palangka Raya — Pagi di ruang redaksi itu berjalan seperti biasa. Mesin pendingin ruangan berdengung, layar komputer menyala, dan secangkir kopi dibiarkan mendingin di sudut meja. Namun bagi seorang jurnalis, pagi tersebut menyisakan kegelisahan yang tak tertulis. Di layar ponsel, sejumlah pesan telah terbaca. Tidak ada balasan. Panggilan telepon yang sempat berdering pun terhenti tanpa jawaban. Situasi semacam itu, menurut Hartany Soekarno, bukan lagi hal asing dalam kerja jurnalistik hari ini. Wartawan senior Kalimantan Tengah yang telah menekuni profesi ini lebih dari empat dekade itu menyebutnya sebagai bentuk tekanan yang paling sulit dijelaskan, namun paling sering dirasakan. “Sekarang tekanan itu jarang datang dalam bentuk larangan tertulis,” kata Hartany. “Lebih sering melalui sikap diam. Akses informasi dibatasi, narasumber menghindar, kerja sama diputus tanpa penjelasan. Secara formal tidak ada pelanggaran, tapi dampaknya jelas.”ucapnya pelan kepada penulis. Sabtu 7 Februari 2026. Dalam praktik jurnalistik, lanjut Hartany, fakta kerap berhadapan langsung dengan kepentingan. Permintaan untuk “menyesuaikan sudut pandang”, “melembutkan narasi”, atau “menunggu waktu yang tepat” menjadi bagian dari dinamika sehari-hari. Di titik inilah independensi pers diuji. Tidak selalu melalui ancaman hukum atau kekerasan fisik, melainkan melalui mekanisme yang lebih sistemik dan sulit dibuktikan. “Tekanan ekonomi terhadap media sekarang sangat efektif,” kata Hartany. “Begitu kita dianggap tidak sejalan, iklan hilang, akses tertutup. Itu cara paling aman, tapi juga paling menekan.”ujarnya. Hartany menilai kondisi tersebut berpotensi menggeser fungsi pers dari pengawas kekuasaan menjadi sekadar penyampai informasi yang telah disaring. “Kalau jurnalis mulai menimbang kepentingan sebelum fakta, di situlah masalahnya,” ujarnya. “Pers tidak lagi bekerja untuk publik, tapi untuk menjaga kenyamanan pihak tertentu.”ucapnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberanian dalam jurnalistik tidak selalu berarti sikap frontal. “Kadang keberanian itu justru bertahan pada prosedur,” katanya. “Tetap verifikasi meski diburu waktu. Tetap menulis data apa adanya. Tetap koreksi jika keliru, meski konsekuensinya tidak ringan.”ujarnya. Hari Pers Nasional, menurut Hartany, seharusnya menjadi ruang refleksi bersama, bukan sekadar perayaan simbolik. “Pertanyaannya sederhana,” ujarnya. “Apakah pers hari ini masih memberi ruang bagi kebenaran yang tidak nyaman?” Ia mengingatkan, ketika pers memilih untuk diam atau menyesuaikan diri secara berlebihan, dampaknya tidak hanya dirasakan di ruang redaksi. “Yang hilang itu hak publik atas informasi yang utuh,” katanya. “Dan itu kerugian yang tidak langsung terlihat, tapi jangka panjang.”ucapnya. Di tengah tekanan yang semakin kompleks, Hartany mengakui jalan jurnalistik kian sempit. Namun ia tetap meyakini peran nurani sebagai penyangga terakhir. “Pers memang tidak dituntut sempurna,” ujarnya. “Tapi pers harus punya batas. Kalau batas itu dilewati, kita kehilangan makna profesi ini yang Terpenting adalah Media Pemberitaan harus Menjaga Independensi, Tetap “Berkiblat” kepada Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Tetap Lakukan Kontrol Sosial, Berpihak kepada Aspirasi Rakyat, Untuk Kemaslahatan Bangsa dan Negara Menuju Rakyat Yang Sejahtera, dan Berkeadilan.” tutupnya. Pada Hari Pers Nasional 2026, di tengah relasi kuasa yang semakin rumit, pers kembali dihadapkan pada pilihan mendasar: menjaga jarak kritis dengan kekuasaan, atau larut dalam kenyamanan semu. Selama masih ada jurnalis yang memilih bertahan pada etika dan fakta, harapan akan pers yang merdeka masih memiliki ruang, meski semakin sempit dan sunyi. DPRD Kotim Soroti Layanan PDAM Samuda, Minta Transparansi dan Jaminan Kualitas Air

Sampah Menumpuk di Pasar Baru Parenggean, Bau Menyengat Ganggu Aktivitas Warga

SAMPIT.Indoborneonews.com– Kondisi lingkungan di Pasar Baru Parenggean, Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dikeluhkan warga. Tumpukan sampah organik dan nonorganik yang tidak terkelola dengan baik menimbulkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas pedagang maupun pengunjung pasar.

Warga setempat, Joko mengatakan persoalan sampah di pasar tersebut sudah berlangsung lama dan belum tertangani secara optimal. Menurutnya, sampah plastik, sisa sayuran busuk, serta limbah pasar lainnya bercampur dan dibiarkan menumpuk selama berbulan-bulan.

“Bau sangat menyengat, apalagi saat siang hari. Sampah menumpuk terus, plastik dan sayur busuk bercampur. Ini sudah berbulan-bulan terjadi,” kata Joko, Rabu (11/2/2026).

Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan aktivitas jual beli, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi pedagang dan masyarakat sekitar pasar. Selain bau, keberadaan lalat, tikus, dan serangga juga menjadi kekhawatiran warga karena berpotensi menjadi sumber penyebaran penyakit.

Menurut Joko, sebagai pasar yang sudah lama berdiri dan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Parenggean, pengelolaan kebersihan seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan pengelola pasar.

Joko berharap pemerintah daerah dan pengelola pasar segera mengambil langkah konkret, seperti meningkatkan frekuensi pengangkutan sampah, menyediakan tempat pembuangan sementara (TPS) yang layak, serta melakukan edukasi pemilahan sampah organik dan nonorganik kepada pedagang dan pengunjung.

“Kami minta ada perhatian serius. Pasar ini sudah lama berdiri, tapi kalau sampahnya dibiarkan seperti ini, citra pasar dan kesehatan warga bisa terganggu,” tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola pasar maupun instansi terkait mengenai penanganan sampah di Pasar Parenggean. Media ini masih berupaya meminta konfirmasi dari pemerintah kecamatan dan dinas terkait. (TIMRED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *