SAMPIT.Indoborneonews.com– Kerajinan berbahan purun semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat. Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tas purun hasil karya pelaku UMKM lokal kian dilirik dan membuka peluang ekonomi baru. Brand Huma Purun yang digagas Krisma Drakel menjadi salah satu yang mendorong kerajinan tradisional naik kelas menjadi produk lifestyle kekinian.
Krisma mengatakan, kecintaannya terhadap produk lokal menjadi awal mula dirinya menekuni dunia kerajinan purun. Sebagai putri daerah, ia merasa Kotim memiliki potensi besar untuk menghadirkan produk khas yang bisa dibanggakan dan dijadikan identitas daerah.
“Setiap ke luar daerah, saya selalu mencari kerajinan khas untuk dibawa pulang. Tapi saat ingin membawa oleh-oleh khas Kotim, saya bingung harus memilih apa,” ujar Krisma, Kamis (4/12).
Dari kegelisahan itulah Huma Purun lahir. Ia ingin kerajinan purun bukan hanya menjadi souvenir, tetapi benar-benar dikenal sebagai ikon khas Kotim. Menurutnya, dukungan masyarakat dan peningkatan daya beli akan mendorong pengembangan industri kreatif ini.
“Harapan saya, Huma Purun bisa menjadi ciri khas Kabupaten Kotim. Kalau masyarakat mendukung dan perkembangannya positif, produk ini bisa menjadi kebanggaan daerah,” katanya.
Saat ini sebagian besar bahan baku serta pengrajin masih berasal dari Buntok, Kabupaten Barito Selatan. Namun Krisma sudah menjalin komunikasi agar pengrajin dapat datang ke Sampit untuk memberikan pelatihan kepada ibu-ibu lokal. Upaya ini juga sejalan dengan perannya sebagai anggota Perempuan Pengusaha Lintas Profesi (PPLP) untuk memperluas pemberdayaan perempuan.
“Kalau memungkinkan, pengrajin dari Buntok bisa datang melatih ibu-ibu di Kotim. Peluang pemberdayaan perempuan cukup besar,” jelasnya.
Berawal dari dunia kuliner, Krisma kemudian tertarik mengembangkan usaha yang tidak hanya bernilai ekonomi tetapi juga mengangkat budaya lokal. Tas purun dengan sentuhan desain modern, pewarnaan semi kekinian, hingga kombinasi kulit premium menjadi produk yang banyak diminati.
“Peminatnya beragam, mulai dari anak sekolah hingga orang dewasa. Motifnya kami buat semi modern, dan ada juga yang kombinasi kulit agar sesuai selera pasar sekarang,” tuturnya.
Dalam pemasaran, Huma Purun aktif memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pembeli dari luar Kotim. Harga produk pun variatif, mulai Rp25.000 untuk tas full purun hingga Rp200.000 ke atas untuk produk kombinasi kulit dengan kualitas lebih premium. Respon pasar dinilai sangat baik, bahkan beberapa model khusus pria dan anak muda mulai banyak dipesan.
Krisma berharap, keberadaan Huma Purun tak hanya menjadi peluang ekonomi baru, tetapi juga memperkuat identitas kerajinan khas Kotim dan membuka ruang pemberdayaan bagi lebih banyak perempuan.
“Mudah-mudahan Huma Purun bisa memperkenalkan Sampit dan Kotim kepada orang-orang di luar sana. Kami ingin produk kerajinan ini dicari, dibawa pulang, dan dibanggakan,” pungkasnya.












