SAMPIT.Indoborneonews.com – Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Baamang Tengah yang beralamat di Jalan Muchran Ali, Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menegaskan komitmennya dalam mencegah dampak negatif teknologi terhadap siswa melalui penguatan pendidikan karakter sejak usia dini.
Kepala SDN 1 Baamang Tengah, Hasanudin, mengatakan bahwa derasnya arus teknologi dan informasi menuntut sekolah untuk lebih aktif melakukan langkah-langkah pencegahan agar anak-anak tidak terjerumus pada perilaku negatif, seperti kecanduan gawai, gim daring, hingga paparan konten yang tidak sesuai usia.
“Di sekolah itu harus ada tindakan preventif atau pencegahan dini. Pencegahan ini dilakukan setiap hari, salah satunya dengan terus mengingatkan siswa agar bijak menggunakan gadget dan media sosial,” ujar Hasanudin, Rabu (14/1/2025).
Ia menilai, melarang anak menggunakan gawai bukanlah solusi yang tepat, mengingat perkembangan zaman yang menuntut anak-anak untuk melek teknologi. Namun, penggunaan gadget harus diberi batasan yang jelas dan berada di bawah pengawasan orang tua.
“Melarang anak pegang HP itu tidak mungkin. Yang paling tepat adalah membatasi. Harus ada jam-jam tertentu, harus di bawah pengawasan orang tua. Sekolah dan orang tua harus berkoordinasi,” jelasnya.
Hasanudin juga menyoroti pentingnya pemanfaatan fitur pengawasan digital, seperti akun khusus anak yang tersedia di berbagai platform. Dengan sistem tersebut, orang tua dapat memantau aktivitas digital anak, mulai dari apa yang diakses hingga konten yang ditonton.
“Sekarang di Google ada akun anak-anak. Orang tua bisa tahu apa yang dilihat dan dilakukan anaknya. Ini yang harus diedukasi, sehingga pengawasan bisa berjalan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, berdasarkan pemantauan sekolah, tidak ditemukan perilaku menyimpang di lingkungan SDN 1 Baamang Tengah. Namun demikian, aktivitas siswa di luar sekolah tetap menjadi wilayah pengawasan utama keluarga.
“Kalau di sekolah kami, sejauh yang kami ketahui tidak ada siswa yang seperti itu. Tapi di luar sekolah, orang tualah yang paling tahu,” katanya.
Hasanudin mengingatkan bahwa pengaruh negatif seperti kecanduan gim daring hingga paparan paham menyimpang dapat merusak pola pikir anak jika tidak difilter dengan baik. Oleh karena itu, penggunaan teknologi harus diarahkan pada hal-hal yang bersifat edukatif.
“Kita tidak boleh salah dalam memanfaatkan teknologi. Teknologi itu seperti senjata, tergantung siapa yang memegang. Kalau digunakan dengan benar, hasilnya positif,” ujarnya.
Ia mencontohkan pemanfaatan kecerdasan buatan seperti ChatGPT sebagai sarana pembelajaran. Menurutnya, teknologi tersebut seharusnya digunakan untuk mendorong kreativitas dan praktik nyata, bukan sekadar menjawab soal secara instan.
“Misalnya anak diminta bertanya ke ChatGPT tentang cara membuat pisang goreng. Setelah dijelaskan bahannya dan langkahnya, anak-anak diminta mempraktikkan. Itu baru mendidik,” jelasnya lagi.
Dalam upaya pencegahan kekerasan dan perilaku menyimpang, SDN 1 Baamang Tengah juga telah membentuk Tim Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan (TPPK) sesuai instruksi Dinas Pendidikan Kotim. Tim ini bertugas memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan ramah anak.
Selain itu, Hasanudin menekankan bahwa pendidikan di sekolahnya berfokus pada tiga pilar utama. “Yang pertama itu etika, moral, dan akhlak. Kedua literasi dan numerasi. Kalau itu sudah kuat, baru kita masuk ke pengembangan yang lain,” katanya.
Ia juga mengingatkan para guru agar tidak terpaku sepenuhnya pada kurikulum dan buku ajar, melainkan menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa. Menurutnya, pendidikan harus membumi dan berorientasi pada kebutuhan anak.
“Kalau anak belum bisa membaca, tapi kita paksa materi berat, ya tidak akan sampai. Pendidikan harus disesuaikan,” imbuhnya.
Di akhir, Hasanudin menegaskan bahwa pengawasan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan. Keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pengambil kebijakan harus berjalan seiring.
“Jangan hanya berharap pada sekolah. Yang pertama itu keluarga, kemudian sekolah, lalu lingkungan. Semua stakeholder harus bersama-sama, karena tantangan anak-anak sekarang semakin kompleks,” pungkasnya. (TIMRED)












