SAMPIT, Indoborneonews.com – SMP Negeri 11 Sampit yang berlokasi di Jalan Wengga Metropolitan, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menegaskan komitmennya dalam menanggulangi berbagai bentuk kenakalan remaja. Upaya tersebut mencakup pencegahan perundungan (bullying), penyalahgunaan narkoba, hingga dampak negatif gim daring, melalui pendekatan edukatif yang berkelanjutan dengan menitikberatkan pada penguatan pendidikan karakter siswa.
Kepala SMPN 11 Sampit, Kartina, melalui Bagian Kesiswaan Retno Utami, menyampaikan bahwa pencegahan perilaku negatif dilakukan secara sistematis dan melibatkan seluruh unsur sekolah serta dukungan aktif dari orang tua.
“Untuk menanggulangi kenakalan anak-anak, khususnya bullying, kami tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi juga mengajak siswa terlibat aktif melalui berbagai kegiatan positif,” ujar Retno Utami, Rabu (14/1/2025).
Salah satu langkah konkret yang dilakukan sekolah adalah menggelar lomba pembuatan poster anti-bullying. Hasil karya para siswa tersebut kemudian dipasang di sejumlah titik strategis di lingkungan sekolah, seperti dinding kelas, depan kantor, hingga area umum lainnya.
“Dengan cara itu, pesan anti-bullying tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi terus dilihat dan diingat oleh siswa setiap hari,” jelasnya.
Dalam upaya pencegahan kenakalan remaja yang lebih luas, termasuk penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan pelanggaran lalu lintas, SMPN 11 Sampit juga menjalin kerja sama dengan pihak kepolisian. Salah satunya melalui kegiatan upacara bersama Polres Kotim.
“Pada kesempatan tersebut, pihak kepolisian menyampaikan secara langsung kepada siswa tentang bahaya narkoba, dampak pergaulan bebas, hingga risiko berkendara tanpa mematuhi aturan,” ungkap Retno.
Selain itu, sekolah juga memberi perhatian serius terhadap maraknya gim daring yang dinilai berpotensi membawa pengaruh negatif, termasuk konten kekerasan dan paparan paham radikalisme. Para guru secara rutin menyampaikan imbauan kepada siswa, khususnya saat apel pagi.
“Kami selalu mengingatkan bahwa bermain gim itu boleh, tetapi harus ada batasan dan aturan. Anak-anak juga diingatkan untuk menghindari permainan yang melibatkan orang-orang yang tidak dikenal,” tegasnya.
Menurut Retno, banyak gim yang memuat konten kekerasan seperti adegan memukul dan menembak, yang jika tidak diawasi dapat memengaruhi perilaku serta pola pikir anak.
“Pengaruh tersebut sangat mudah masuk melalui gim. Karena itu, pengawasan harus ekstra, tidak hanya dari pihak sekolah, tetapi juga dari orang tua di rumah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam membentuk karakter siswa. Peran orang tua sangat diperlukan, terutama dalam mengawasi aktivitas anak di luar sekolah dan penggunaan gawai.
“Kami tidak hanya mengharapkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi yang terpenting adalah memiliki karakter yang baik,” ujarnya.
Dalam penerapan pendidikan karakter, SMPN 11 Sampit memulainya dari hal-hal sederhana namun dilakukan secara konsisten. Disiplin menjadi salah satu nilai utama yang terus ditanamkan kepada siswa.
“Anak-anak dibiasakan datang tepat waktu. Pukul 06.15 WIB mereka sudah harus berada di sekolah karena apel pagi dimulai sekitar pukul 06.30 WIB,” imbuhnya.
Selain disiplin, nilai sopan santun juga menjadi perhatian utama. Setiap pagi, guru berjaga di gerbang sekolah untuk menyambut siswa.
“Bukan hanya siswa yang menyapa guru, tetapi guru juga menyapa siswa. Kami membiasakan salam, senyum, dan sapa agar tercipta lingkungan sekolah yang hangat dan saling menghormati,” pungkas Retno
Melalui berbagai langkah tersebut, SMPN 11 Sampit berharap dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta mampu membentuk generasi muda yang berkarakter kuat dan bertanggung jawab. (TIMRED)












