Daerah  

Sepuluh Tahun di Jalan, IDEB Menjaga Persaudaraan Sopir Kalteng

IDEB Menjaga Persaudaraan Sopir Kalteng

PANGKALAN BUN.INDOBORNOENEWS– Jalan raya menjadi ruang hidup bagi para pengemudi. Berjam-jam berada di balik kemudi, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, mereka tidak hanya berhadapan dengan jarak dan waktu, tetapi juga berbagai persoalan yang datang silih berganti.

Banner Website

Di tengah kerasnya dunia transportasi itu, persaudaraan menjadi salah satu kekuatan yang membuat mereka tetap bertahan.

Hal tersebut tergambar dalam perjalanan Indonesia Driver Elite Borneo (IDEB), komunitas pengemudi yang kini telah memasuki usia 10 tahun.

Satu dekade perjalanan IDEB diperingati di Bumiharjo, Pangkalan Bun, Minggu (20/9/2026). Ketua Umum IDEB Muzib Al Farizi bersama jajaran pengurus dan anggota dari berbagai wilayah Kalimantan Tengah hadir dalam momentum tersebut.

Tidak sekadar merayakan bertambahnya usia, pertemuan itu menjadi ruang untuk kembali mempertemukan orang-orang yang selama ini lebih sering berkomunikasi melalui jalan dan aktivitas pekerjaan.

Ada cerita tentang perjalanan panjang, tantangan mencari nafkah, hingga harapan agar sesama pengemudi tetap saling menguatkan.

Bagi Muzib, mempertahankan sebuah komunitas selama satu dekade justru menjadi tantangan yang lebih besar daripada membentuknya.

“Membuat komunitas itu mudah. Yang sulit adalah mempertahankannya hingga bisa bertahan selama 10 tahun. Ini tentu tidak lepas dari kebersamaan dan kekompakan seluruh anggota,” ujarnya.

Sepuluh tahun membuat IDEB tidak lagi sekadar menjadi tempat berkumpul para sopir. Komunitas tersebut berkembang menjadi wadah untuk membangun komunikasi, mempererat persaudaraan, berbagi informasi, sekaligus saling membantu ketika anggota menghadapi persoalan di lapangan.

Nilai kebersamaan itu semakin terasa ketika para pengemudi menghadapi situasi sulit.

Saat ini, sejumlah wilayah Kalimantan Tengah masih dibayangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Bagi pengemudi yang sebagian besar waktunya dihabiskan di jalan, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kelancaran perjalanan.

Muzib mengingatkan anggota agar tidak mengabaikan keselamatan ketika bekerja.

“Semangat dan tetap jaga keselamatan di jalan. Saya juga berterima kasih kepada seluruh saudara yang hadir di tengah kondisi kabut asap yang cukup parah seperti sekarang,” katanya.

Tantangan lain datang dari persoalan BBM subsidi. Antrean panjang menjadi pemandangan yang harus dihadapi sebagian pengemudi untuk mendapatkan bahan bakar.

Bagi sopir pikap dan truk, persoalan tersebut berpengaruh langsung terhadap aktivitas angkutan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja tidak jarang tersita karena harus mengantre.

Seorang anggota IDEB menggambarkan kondisi tersebut secara sederhana. Para sopir tetap harus menjalankan pekerjaan meski situasi transportasi sedang tidak mudah.

“Mau mengeluh kepada siapa. Mau tidak mau tetap ikut antre. Kondisi transportasi sekarang memang sedang tidak baik. BBM sulit, sementara ongkos angkutan juga murah,” ujarnya.

Namun, di balik persoalan tersebut, IDEB berusaha menjadikan komunitas sebagai tempat untuk saling menguatkan.

Muzib mengatakan pihaknya akan mencoba mencari jalan keluar terhadap persoalan yang dirasakan anggota, khususnya menyangkut kebutuhan BBM subsidi.

Bagi komunitas pengemudi, solidaritas tidak berhenti ketika perjalanan selesai.

Selama ini IDEB juga menjaga tradisi berbagi kepada masyarakat. Santunan untuk anak yatim dan kaum duafa menjadi salah satu kegiatan sosial yang dilakukan secara rutin setiap bulan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya IDEB agar keberadaan komunitas tidak hanya dirasakan oleh para pengemudi, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Memasuki satu dekade, langkah IDEB pun belum berhenti.

Pengurus berencana memperluas jangkauan wilayah, menambah anggota, serta mempertahankan kegiatan sosial yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan komunitas.

“Kami ingin ke depan IDEB semakin luas, anggotanya semakin banyak, tetapi kegiatan sosial tetap menjadi prioritas. Mudah-mudahan keberadaan kami terus memberikan manfaat,” kata Muzib.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak komunitas itu dibangun.

Jalan raya masih menjadi tempat para anggotanya mencari nafkah. Kemacetan, jarak, kabut asap, antrean BBM hingga persoalan ongkos angkutan masih menjadi bagian dari keseharian.

Tetapi satu hal yang terus mereka bawa dalam perjalanan: rasa persaudaraan.

Sebab bagi mereka, perjalanan panjang tidak selalu harus ditempuh seorang diri. Di antara suara mesin dan panjangnya jalan, ada komunitas yang menjadi tempat untuk kembali, berbagi cerita, dan saling menguatkan. (Anjar)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *