Daerah  

Sesak dan Mata Perih! Sampit Dikepung Asap dan Abu Karhutla

Salah satu ruas jalan di Kota Sampit di kepung asap

SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin terasa di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Udara yang dipenuhi asap membuat warga mengeluhkan sesak napas dan mata perih.

Tak hanya asap, abu dan serpihan sisa pembakaran juga mulai beterbangan hingga masuk ke lingkungan permukiman. Kendaraan yang terparkir di luar rumah ikut terkena abu, sementara sebagian partikel masuk melalui celah ventilasi.

Banner Website

Hidayat, warga Sampit, mengatakan kondisi tersebut semakin terasa ketika asap mulai menebal. Aktivitas di luar rumah menjadi tidak nyaman karena udara sulit dihirup dan mata terasa perih.

“Kalau asap sudah tebal, napas terasa berat. Mata juga langsung perih. Mau beraktivitas di luar jadi tidak nyaman,” ujar Hidayat.

Menurutnya, abu sisa pembakaran kini juga mulai terlihat di sekitar tempat tinggal warga. Partikel tersebut beterbangan terbawa angin dan menempel di berbagai permukaan.

“Abu sudah mulai masuk ke sekitar rumah. Kendaraan yang diparkir di luar juga terkena. Jadi bukan hanya asap yang kami rasakan, sisa kebakarannya juga sampai ke sini,” katanya.

Kondisi tersebut membuat dampak karhutla semakin nyata dirasakan masyarakat. Kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Kotim tidak hanya meninggalkan asap, tetapi juga membawa sisa pembakaran hingga ke kawasan permukiman.

Abu yang terbawa angin terlihat dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa butiran halus berwarna putih keabu-abuan, namun terdapat pula serpihan daun dan tanaman yang hangus hingga berwarna hitam.

Ketika angin bertiup, partikel tersebut semakin mudah menyebar. Sebagian bahkan masuk ke dalam rumah melalui ventilasi.

Sementara itu, penanganan karhutla di Kotim terus berlangsung. Hingga Selasa (22/9/2026), tercatat 1.081 kejadian telah ditangani dengan total luasan lahan terbakar mencapai 1.880,57 hektare.

Besarnya luasan tersebut menunjukkan masih luasnya dampak kebakaran yang harus ditangani. Asap dari sejumlah titik kemudian terbawa angin dan menyelimuti kawasan yang dihuni masyarakat.

Kondisi udara seperti ini membuat warga harus membatasi aktivitas di luar rumah, terutama ketika asap semakin pekat. Penggunaan masker juga diperlukan untuk mengurangi paparan partikel di udara.

Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian lebih dengan mengurangi paparan asap dan menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Karhutla di Kotim kini bukan lagi sekadar persoalan api yang membakar lahan. Dampaknya telah menjalar ke ruang hidup masyarakat.

Di Sampit, warga merasakan langsung akibatnya, asap membuat napas sesak, mata perih, sementara abu sisa pembakaran mulai beterbangan hingga masuk ke lingkungan rumah. (Sg)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *