Soroti Karhutla 4 Hektare Gambut di Samuda, DPRD Kotim Minta Semua Pihak Tingkatkan Kewaspadaan

SAMPIT.Indoborneonews.com– DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali terjadi di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur, tepatnya di Desa Samuda Kota, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Kebakaran yang terjadi pada Minggu (1/3/2026) tersebut menghanguskan sekitar 4 hektare lahan gambut dan sempat mengancam permukiman warga.

Anggota DPRD Kotim dari Daerah Pemilihan III, Eddy Mashamy, menegaskan bahwa peristiwa kebakaran lahan di wilayah selatan bukanlah kejadian baru, melainkan persoalan yang terus berulang setiap tahun dan memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak.

“Kebakaran hutan dan lahan ini memang menjadi persoalan klasik, khususnya di Kalimantan Tengah dan wilayah selatan Kotim. Hampir setiap tahun selalu terjadi, sehingga kita semua harus meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, faktor utama yang menyebabkan wilayah selatan Kotim rawan kebakaran adalah kondisi geografis yang didominasi lahan gambut. Karakteristik gambut yang mudah terbakar saat kering membuat kawasan tersebut sangat rentan terhadap karhutla.

Menurut Eddy, lahan gambut memiliki sifat mudah terbakar ketika kadar airnya berkurang akibat cuaca panas dan kekeringan.

“Kalau gambut itu sudah kering, sifatnya seperti kasur. Percikan kecil saja, baik dari panas, gesekan, maupun api, bisa langsung memicu kebakaran dan cepat meluas,” jelasnya.

Selain faktor alam, ia juga menyoroti faktor aktivitas manusia yang masih membuka lahan dengan cara dibakar karena dianggap lebih mudah, cepat, dan hemat biaya dibandingkan metode lain seperti penebasan manual yang memerlukan biaya lebih besar.

Padahal, lanjutnya, praktik pembakaran lahan sangat berbahaya dan dilarang oleh regulasi karena berpotensi memicu kebakaran besar, terutama di kawasan gambut.

“Kita memahami ada faktor ekonomi yang menjadi pertimbangan masyarakat. Namun membuka lahan dengan cara dibakar sangat berisiko dan tidak diperbolehkan. Dampaknya bisa meluas dan merugikan semua pihak,” tegasnya.

Ia menambahkan, kebakaran lahan tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta aktivitas ekonomi dan transportasi.

Karena itu, DPRD Kotim meminta seluruh pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga organisasi peduli api, untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan.

Menurut politisi Partai Amanat Nasional ini, peran instansi terkait seperti BPBD, kepolisian, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.

“Kita harus memperkuat pembinaan dan pengawasan. Semua pihak harus terlibat aktif, termasuk masyarakat. Organisasi peduli api juga harus diaktifkan kembali agar penanganan bisa lebih cepat dan efektif,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa wilayah Kotim kerap memasuki periode rawan bencana asap setiap tahun, khususnya saat awal musim kemarau, sehingga langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini.

“Setiap tahun selalu diingatkan bahwa ini adalah periode rawan bencana asap. Oleh karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan agar kebakaran tidak meluas. Karena kalau sudah terjadi, yang dirugikan bukan hanya satu pihak, tetapi kita semua,” pungkasnya.

Sementara itu, kebakaran di Wilayah Samuda Kota berhasil dikendalikan setelah petugas dan relawan bergerak cepat melakukan pemadaman. DPRD Kotim berharap kejadian ini menjadi peringatan bagi semua pihak untuk lebih peduli dan bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah selatan Kotim. (redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *