Resah! BBM Mahal di Pengecer, Warga Katingan Mengeluh Pertalite Rp25 Ribu, Pertamax Rp28 Ribu

KATINGAN.Indoborneonews.com – Warga di wilayah Kereng Pangi, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah, mengaku resah akibat lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat pengecer yang kian tidak terkendali, terutama harga BBM jenis Pertalite dilaporkan mencapai Rp25.000 per liter, sementara Pertamax menyentuh Rp28.000 per liter.

Kondisi ini terjadi di tengah terbatasnya pasokan BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sehingga masyarakat terpaksa membeli dari pengecer dengan harga jauh lebih tinggi dari biasanya.

Salah satu warga, Salim, mengatakan bahwa kelangkaan BBM sudah beberapa waktu terakhir dirasakan masyarakat. Ia menyebut, stok di SPBU kerap habis, memicu antrean panjang dan akhirnya membuat warga beralih ke pengecer.

“Kami tidak punya pilihan lain, karena di SPBU sering kosong. Terpaksa beli di pengecer walaupun harganya sangat mahal,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, kondisi ini sangat memberatkan, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada kendaraan, seperti petani, pedagang, dan pekerja lapangan.

“Biaya operasional jadi naik. Mau tidak mau harus beli, karena ini kebutuhan,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran adanya dugaan ketidakwajaran dalam distribusi BBM. Pasalnya, kelangkaan dinilai terjadi berulang kali tanpa penjelasan yang jelas.

“Di Katingan ini hampir sering kosong. Kami menduga ada permainan, tapi tidak tahu pasti. Yang jelas masyarakat dirugikan,” keluh seorang warga.

Dampak dari mahalnya BBM ini tidak hanya dirasakan pada sektor transportasi, tetapi juga mulai memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok akibat meningkatnya biaya distribusi barang.

Masyarakat pun berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat segera turun tangan untuk menelusuri penyebab kelangkaan serta memastikan distribusi BBM berjalan normal dan tepat sasaran.

“Kami minta pemerintah memperhatikan kondisi ini, supaya harga kembali normal dan tidak memberatkan masyarakat kecil,” harap Salim.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti kelangkaan dan lonjakan harga BBM di wilayah tersebut. Warga berharap ada langkah konkret agar persoalan ini tidak terus berlarut-larut. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *