Berdampingan dengan Kebun Warga, PT Agro Bukit Ikut Bantu Atasi Kebakaran

Muhammad Hasan saat memperlihatkan kebun terbakar

SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Kebakaran melanda perkebunan kelapa sawit milik warga di Jalan Sudirman, Kelurahan Pasir Patih, KM 12, Kecamatan Mentaya Hilir Ketapang (MB Ketapang), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Api yang muncul pada Sabtu (19/9/2026) itu membakar sekitar empat hektare lahan. Kondisi perkebunan yang kering di tengah musim kemarau membuat kobaran api cepat merambat dan menyulitkan proses pemadaman.

Banner Website

Lokasi kebakaran berada berdampingan dengan areal perkebunan kelapa sawit milik PT Agro Bukit. Dalam upaya mengendalikan api, perusahaan ikut membantu warga dengan menyediakan tangki air untuk mendukung proses pemadaman di lokasi.

Bantuan tersebut menjadi salah satu dukungan penting bagi warga karena sumber air berada cukup jauh dari titik kebakaran. Sementara itu, sebagian area yang terbakar berada di bagian tengah perkebunan sehingga tidak mudah dijangkau.

Petani setempat, Muhammad Hasan, mengapresiasi bantuan yang diberikan perusahaan dalam penanganan kebakaran tersebut.

“Perusahaan cukup maksimal membantu, termasuk menyediakan tangki air. Tetapi api cepat sekali merambat, sedangkan untuk menjangkau bagian tengah kami cukup kesulitan,” kata Hasan, Selasa (22/9/2026).

Menurut Hasan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan sarana air yang dapat digunakan warga dengan cepat. Terlebih, perkebunan warga dan areal perusahaan berada dalam satu kawasan yang berdekatan.

Ia berharap kerja sama antara warga dan Agro Bukit tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi juga diperkuat dalam upaya pencegahan.

Salah satu kebutuhan yang dinilai penting adalah jaringan pipa atau paralon yang dapat mengalirkan air dari Sungai Lenggana menuju kawasan perkebunan warga. Jarak sumber air tersebut diperkirakan sekitar 350 meter dari lokasi kebun.

Hasan menilai keberadaan jaringan air akan membuat warga lebih cepat melakukan pembasahan ketika api mulai muncul. Dengan begitu, api di titik awal diharapkan dapat dikendalikan sebelum merambat lebih luas.

“Paralonnya tidak perlu besar. Yang penting air bisa dialirkan ke areal sawit yang pertama kali terkena api, sehingga bisa segera kami basahi dan api tidak merambat ke kebun lainnya,” ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini belum ada koordinasi khusus antara petani di kawasan tersebut dengan perusahaan terkait penyediaan jaringan air. Karena itu, kebakaran yang terjadi diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama dalam menghadapi ancaman kebakaran.

Menurut Hasan, kondisi lahan yang kering dan banyaknya semak membuat api dapat dengan cepat menjalar. Pengalaman sebelumnya juga menunjukkan sumber api pernah datang dari arah tenggara dan bergerak menuju kawasan perkebunan warga.

“Kalau ada jaringan air di sini, ketika muncul api kami bisa lebih cepat melakukan pembasahan. Jadi areal yang pertama terkena bisa ditahan supaya tidak menjalar ke utara dan masuk ke kebun warga lainnya,” katanya.

Bagi warga, sarana air bukan hanya dibutuhkan saat kebakaran telah membesar. Ketersediaan air di sekitar perkebunan juga dapat digunakan untuk pembasahan lahan sebagai langkah awal pencegahan selama musim kemarau.

Hasan berharap dukungan perusahaan terhadap warga dapat terus berlanjut, termasuk melalui penguatan sarana pencegahan kebakaran.

“Kami berharap ada kerja sama dengan Agro Bukit, terutama untuk penyediaan paralon. Kalau air bisa sampai ke sini, kami lebih mudah mengantisipasi apabila kebakaran kembali terjadi,” pungkasnya (sg). (Sg)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *