Hujan di Kota Sampit
SAMPIT.INDOBORNEONEWS– Hujan mengguyur sejumlah kawasan di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Kamis (1/10/2026). Turunnya hujan di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi fenomena yang langsung disambut lega masyarakat.
Hampir dua bulan terakhir, warga Sampit harus berhadapan dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Panas menyengat, lahan mengering, titik api bermunculan dan asap beberapa kali menyelimuti kawasan perkotaan.
Kondisi itu membuat hujan pada awal Oktober terasa berbeda. Bukan sekadar membasahi jalan dan permukiman, tetapi juga membawa harapan agar rangkaian karhutla yang terjadi di Kotim segera mereda.
Susi, warga Baamang Barat, mengatakan hujan yang turun membuat suasana terasa lebih nyaman setelah masyarakat cukup lama beraktivitas di tengah asap.
“Rasanya lega melihat hujan turun. Mudah-mudahan setelah ini asap semakin berkurang dan udara di Sampit kembali bersih,” ujar Susi.
Menurutnya, kabut asap dalam beberapa pekan terakhir cukup mengganggu aktivitas masyarakat. Asap yang datang berulang kali membuat warga harus lebih berhati-hati ketika berada di luar rumah.
“Semoga hujan ini bukan hanya sebentar. Kalau terus turun, mudah-mudahan lahan yang kering kembali basah dan kebakaran juga semakin berkurang,” katanya.
Hujan tersebut juga menjadi fenomena yang dinantikan setelah kondisi kering membuat ancaman karhutla meningkat di berbagai wilayah Kotim. Sejumlah kawasan sebelumnya dilanda kebakaran lahan, sementara asapnya terbawa angin hingga memasuki kawasan permukiman dan pusat kota.
Dalam kondisi ekstrem seperti itu, setiap hujan memiliki arti penting. Air yang turun dapat membantu membasahi permukaan lahan dan vegetasi yang mengering sehingga potensi munculnya titik api baru diharapkan dapat ditekan.
Namun, hujan yang turun di sejumlah kawasan belum berarti ancaman karhutla telah berakhir. Jika curah hujan belum merata dan setelahnya kembali terjadi panas panjang, lahan yang masih kering tetap berpotensi terbakar.
Karena itu, masyarakat berharap perubahan cuaca kali ini tidak hanya berlangsung sesaat. Hujan yang turun secara berkala dinilai akan lebih membantu memulihkan kondisi lahan sekaligus mengurangi kabut asap yang selama ini mengganggu aktivitas warga.
Informasi BMKG sebelumnya menunjukkan potensi hujan pada Kamis siang terdapat di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara dan Mentawa Baru Ketapang.
Bagi warga Sampit, hujan di awal Oktober menjadi jeda setelah berminggu-minggu menghadapi panas dan asap. Mereka kini berharap langit yang mulai menurunkan hujan menjadi pertanda perubahan kondisi cuaca dan membantu mengakhiri periode panjang karhutla di Kotim.
Jika hujan terus berlanjut dan turun lebih merata, bukan hanya jalanan yang kembali basah. Lahan-lahan kering yang selama ini menjadi sumber kekhawatiran juga diharapkan mulai kehilangan kondisi yang mudah terbakar, sementara udara Sampit perlahan kembali bersih. (Sg)












