Kepala SMA Negeri 4 Sampit, Ananto Wibisono
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memengaruhi aktivitas pendidikan. SMA Negeri 4 Sampit memilih mengalihkan sementara kegiatan belajar mengajar dari sekolah ke rumah setelah kualitas udara di sekitar lingkungan sekolah beberapa hari terakhir berada pada level ISPU di atas 400.
Keputusan tersebut diambil sebagai langkah kehati-hatian untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan udara yang tidak sehat. Di sisi lain, sekolah memastikan kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan proses belajar.
Pembelajaran tetap berjalan, hanya pola pelaksanaannya yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Kepala SMA Negeri 4 Sampit, Ananto Wibisono, mengatakan sekolah menjadikan Surat Edaran Gubernur Kalimantan Tengah tertanggal 30 Agustus sebagai salah satu acuan dalam menentukan kebijakan pembelajaran selama kondisi kabut asap.
Namun, keputusan tidak hanya didasarkan pada kondisi udara secara umum. Sekolah melakukan evaluasi terhadap situasi di lingkungan sekolah setiap hari karena tingkat kabut asap dapat berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lainnya.
“Beberapa hari ini kami melaksanakan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh karena ISPU di lingkungan SMA Negeri 4 Sampit setiap hari berada di atas 400,” kata Ananto, Senin (21/9/2026).
Pembelajaran jarak jauh diterapkan selama Kamis, Jumat dan Senin. Kebijakan tersebut bersifat dinamis dan akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi udara.
Setiap pagi, tim sekolah berdiskusi untuk melihat kondisi terkini di sekitar sekolah. Evaluasi kembali dilakukan sekitar pukul 14.00 WIB. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah keesokan harinya siswa masih belajar dari rumah atau sudah dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka.
Menurut Ananto, pola tersebut diperlukan karena kondisi kabut asap di Sampit tidak selalu seragam. Pada waktu tertentu, kawasan perkotaan dapat terlihat cerah, sementara kondisi udara di sekitar sekolah justru masih dipenuhi asap.
“Kadang-kadang di wilayah perkotaan suasana pagi terlihat cerah, tetapi ketika mendekati lingkungan SMA Negeri 4 Sampit, kabut asapnya masih cukup pekat,” ujarnya.
Karena itu, sekolah tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan kondisi cuaca di satu kawasan. Pemantauan langsung di lingkungan sekolah menjadi bagian penting sebelum kegiatan tatap muka kembali dilaksanakan.
Bagi sekolah, keselamatan siswa tetap menjadi pertimbangan utama. Namun, di saat yang sama, proses pembelajaran juga harus dijaga agar tidak terlalu banyak kehilangan waktu belajar.
Untuk itu, guru tetap memberikan materi dan pendampingan melalui berbagai sarana pembelajaran digital. Platform Rumah Betang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar, sementara komunikasi dan penugasan dilakukan melalui grup WhatsApp. Google Meet juga dimanfaatkan ketika diperlukan pembelajaran secara langsung bersama guru.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menjaga agar siswa tetap mendapatkan pembelajaran meskipun tidak hadir secara fisik di ruang kelas.
Ananto mengakui pembelajaran jarak jauh memiliki tantangan tersendiri. Interaksi antara guru dan siswa tidak sepenuhnya dapat menggantikan pembelajaran tatap muka. Meski demikian, sekolah berupaya agar perubahan pola belajar tersebut tidak membuat proses pendidikan terhenti.
“Memang dibandingkan pembelajaran tatap muka tentunya berbeda. Tetapi ini adalah upaya yang kami optimalkan agar pembelajaran tetap bisa dilaksanakan meskipun tidak bertatap muka dengan guru,” jelasnya.
Selain persoalan kualitas udara, sekolah juga memberikan perhatian terhadap potensi kebakaran lahan di sekitar lingkungan sekolah.
Di bagian belakang SMA Negeri 4 Sampit masih terdapat kawasan semak belukar dalam radius sekitar 100 hingga 150 meter. Kawasan tersebut diketahui sempat terbakar sekitar tiga minggu lalu.
Meski api telah padam, pihak sekolah tetap mewaspadai kemungkinan munculnya kembali titik api, terutama di tengah kondisi kemarau dan kabut asap yang masih berlangsung.
Sebagai langkah antisipasi, sekolah telah menyiapkan air dan selang di bagian belakang sekolah. Persiapan tersebut dilakukan agar apabila muncul api, penanganan awal dapat segera dilakukan sebelum meluas.
“Kami juga sudah melakukan antisipasi dengan menyiapkan air dan selang di wilayah belakang sekolah. Titiknya memang di bagian belakang sekolah yang masih banyak semak belukar,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, pihak sekolah berharap kondisi kabut asap segera membaik. Dengan kualitas udara yang kembali aman, kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat berlangsung normal dan siswa kembali mendapatkan pengalaman belajar secara langsung bersama guru.
Ananto juga mengajak siswa dan orang tua tidak hanya memperhatikan kondisi di lingkungan sekolah, tetapi ikut berperan dalam mencegah munculnya kebakaran hutan dan lahan di wilayah masing-masing.
Menurutnya, upaya mengatasi kabut asap membutuhkan kepedulian bersama. Selama siswa menjalani pembelajaran dari rumah, mereka juga diharapkan mendapat pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
“Harapannya asap ini segera berlalu, sehingga anak-anak bisa aman datang ke sekolah dan pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal,” pungkasnya. (Sg)












