Lebih Sebulan PJJ, SMKN 4 Sampit Perkuat Strategi Pembelajaran agar Siswa Tak Tertinggal

Kepala SMKN 4 Sampit, Rusli Haryanti, S.P., M.Pd

SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Lebih dari sebulan menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat kondisi kualitas udara yang terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), SMKN 4 Sampit terus berupaya menjaga agar proses pendidikan tetap berjalan optimal.

Alih-alih menjadikan kondisi tersebut sebagai penghalang, sekolah memperkuat berbagai strategi pembelajaran agar siswa tetap aktif, memahami materi, serta tidak kehilangan kesempatan untuk berkembang meski kegiatan belajar dilakukan dari rumah.

Banner Website

Kepala SMKN 4 Sampit, Rusli Haryanti, S.P., M.Pd., menyampaikan sekolah berkomitmen mengikuti kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dengan tetap memastikan proses pembelajaran berjalan selama kondisi udara belum memungkinkan untuk kegiatan tatap muka secara penuh.

“Untuk saat ini kami melaksanakan PJJ 100 persen. Kondisi udara terus kami pantau melalui aplikasi Huma Betang sehingga pola pembelajaran bisa kami sesuaikan dengan kondisi lingkungan,” ujarnya, Kamis (1/10/2026)

Menurut Rusli, PJJ bukan berarti aktivitas pendidikan berhenti. Justru kondisi tersebut mendorong guru untuk semakin kreatif dalam menyampaikan materi dan melakukan evaluasi terhadap pemahaman siswa.

Berbagai metode pembelajaran dikembangkan agar siswa tidak hanya menerima materi secara satu arah. Guru memperbanyak tanya jawab, diskusi, presentasi, hingga penugasan berbasis praktik yang dapat dilakukan dari rumah.

“Cara menyampaikan materi kami perkuat. Tanya jawab lebih banyak, materi dikemas lebih menarik, kemudian untuk penilaian kami tidak hanya menggunakan soal tertulis, tetapi juga soal lisan dan unjuk kerja,” jelasnya.

Khusus untuk pembelajaran praktik yang menjadi bagian penting pendidikan kejuruan, sekolah menyesuaikan bentuk tugas agar kompetensi siswa tetap dapat dipantau. Siswa dapat menunjukkan hasil pekerjaan melalui video, presentasi maupun praktik yang dipantau guru.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menjaga kualitas pembelajaran sekaligus mengurangi risiko siswa kehilangan materi karena terlalu lama mengikuti PJJ.

Rusli mengakui pembelajaran jarak jauh memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga konsistensi kehadiran dan partisipasi siswa. Karena itu, sekolah melakukan pemantauan secara berkala dan berkomunikasi dengan orang tua apabila terdapat siswa yang mengalami penurunan keaktifan.

“Kalau ada siswa yang terlihat menurun keaktifannya, kami komunikasikan dengan orang tua. Kami ingin sekolah dan keluarga sama-sama mengawal supaya anak tetap belajar,” katanya.

Peran orang tua menjadi semakin penting karena selama PJJ pengawasan siswa tidak sepenuhnya berada di lingkungan sekolah. Orang tua diharapkan membantu memastikan perangkat yang digunakan benar-benar mendukung kegiatan belajar.

Sekolah juga terus melakukan penyesuaian dalam evaluasi pembelajaran. Tes secara langsung, pertanyaan lisan, hingga unjuk kerja digunakan untuk membantu guru melihat kemampuan siswa secara lebih nyata.

Langkah itu sekaligus menjadi cara sekolah mengantisipasi penggunaan teknologi yang kurang mendukung proses belajar, termasuk ketika siswa mengandalkan mesin pencari atau kecerdasan buatan dalam mengerjakan soal.

Dengan metode evaluasi yang lebih interaktif, guru dapat melihat kemampuan siswa secara langsung sekaligus mendorong mereka memahami materi, bukan sekadar menyelesaikan tugas.

Khusus siswa kelas XII, sekolah memberikan perhatian lebih karena mereka menghadapi berbagai agenda akademik, termasuk persiapan Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang menjadi salah satu bagian penting dalam rencana pendidikan lanjutan.

Sementara bagi siswa kelas X dan XI, PJJ tetap dilaksanakan dengan menyesuaikan kondisi dan tingkat kebutuhan pembelajaran.

Rusli mengatakan sekolah juga belajar dari pengalaman pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi Covid-19. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa gangguan pembelajaran dalam waktu panjang perlu diantisipasi sejak dini.

“Kami tidak ingin kondisi ini berlangsung tanpa strategi. Sekolah harus terus berinovasi supaya anak-anak tidak banyak kehilangan pembelajaran,” ungkapnya.

Selain pembelajaran akademik, sekolah juga mengatur kegiatan siswa agar fokus utama tetap pada proses belajar. Kegiatan tertentu yang membutuhkan kehadiran fisik disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keaktifan siswa dalam mengikuti PJJ.

Di tengah kondisi cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat, SMKN 4 Sampit memilih terus bergerak dengan memperkuat kolaborasi antara guru, siswa dan orang tua.

Rusli berharap kondisi kabut asap akibat karhutla segera berakhir sehingga kegiatan pendidikan dapat kembali berlangsung secara normal. Namun selama kondisi belum memungkinkan, sekolah memastikan berbagai strategi tetap dijalankan agar hak siswa untuk mendapatkan pembelajaran tetap terjaga.

“Kami berharap kondisi ini cepat berlalu dan cuaca kembali normal. Tetapi selama masih ada kendala, kami tetap melakukan perbaikan strategi dan inovasi. Yang paling penting, siswa tetap semangat belajar,” pungkasnya. (Sg).

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *