Daerah  

Begasing, Menyumpit, Menganyam: Polres Kotim Hidupkan Tradisi Dayak di Hari Bhayangkara ke-80

Kegiatan ini digelar dalam memperingati Hari Bhayangkara ke-80.

SAMPIT, Indoborneo News — Nuansa tradisi dan kearifan lokal Dayak mewarnai kemeriahan peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tahun 2026 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Polres Kotim menggelar perlombaan olahraga tradisional dan seni budaya yang meliputi kompetisi Begasing, Menyumpit, hingga Menganyam, Minggu (14/6/2026) di Taman Kota Sampit.

Banner Website

Ajang pelestarian budaya ini dibuka langsung oleh Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Kotim, Ny. Sentomoy Resky. Hadir pula panitia pelaksana dan puluhan peserta yang antusias mengikuti setiap cabang lomba.

Suasana Taman Kota Sampit tampak meriah sejak pagi. Dentingan gasing yang berputar, lesatan anak sumpit ke sasaran, hingga ketelatenan peserta menganyam rotan menjadi pemandangan yang menyedot perhatian warga.

Dalam sambutannya, AKBP Resky Maulana Zulkarnain menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mencari pemenang, melainkan wujud nyata komitmen Polres Kotim untuk merawat dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.

“Perlombaan tradisional Begasing, Menyumpit, dan Menganyam ini adalah wujud nyata komitmen Polres Kotim dalam merawat, melestarikan, dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya daerah kepada generasi muda. Melalui momentum Hari Bhayangkara ke-80 ini, kami ingin menumbuhkan rasa bangga terhadap kearifan lokal sekaligus memperkokoh silaturahmi dengan seluruh elemen masyarakat,“ ujar Kapolres.

Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat kedekatan Polri dengan masyarakat melalui pendekatan humanis dan budaya.

Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari itu berjalan aman, tertib, dan penuh keakraban. Warga yang hadir menyambut positif inisiatif Polres Kotim dalam melestarikan budaya Dayak di tengah arus modernisasi.

Melalui kegiatan ini, Polres Kotim menunjukkan bahwa peringatan Hari Bhayangkara tidak hanya identik dengan seremoni, tetapi juga menjadi momentum merawat identitas dan mempererat kemanunggalan Polri dengan rakyat. (hms)
(Fauji)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *