Daerah  

Viral! Polisi di Kalteng Tolak Amplop Ucapan Terima Kasih, Pilih Dibayar Doa

Cak Sam bukan polisi yang menunggu laporan di balik meja atau bergerak hanya karena perintah.

PALANGKA RAYA, Indoborneo News — Di tengah sorotan publik terhadap institusi kepolisian, muncul kisah pengabdian yang menyentuh hati dari Kalimantan Tengah. Iptu H. Shamsudin, atau akrab disapa Cak Sam, menjadi perbincangan warga karena ketulusannya membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat tanpa meminta imbalan materi, Selasa (16/6/2026).

Kisah itu salah satunya terjadi di sebuah bangunan sederhana di pinggiran Kota Palangka Raya. Seorang ibu dengan mata sembab menyodorkan amplop sebagai ucapan terima kasih karena Cak Sam telah membantu mengurai masalah keluarganya yang berlarut berbulan-bulan. Namun dengan halus, polisi berseragam cokelat itu menolak.

Banner Website

“Cukup bayar saya dengan doa saja, Bu,” ucap Cak Sam. Kalimat itu bukan basa-basi, melainkan prinsip yang dipegangnya selama bertugas di wilayah hukum Polda Kalteng.

Nama Cak Sam kini bukan lagi asing di Palangka Raya hingga ke pelosok Kalimantan Tengah. Ceritanya menyebar dari mulut ke mulut hingga media sosial. Yang membuat namanya istimewa bukan karena pangkat atau prestasi kedinasan, melainkan karena kehadirannya saat warga membutuhkan, tanpa syarat.

Konflik sosial antarwarga, masalah asmara remaja yang berujung ricuh, persoalan rumah tangga yang nyaris retak, hingga sengketa utang piutang bertahun-tahun, semua ditangani Cak Sam. Padahal, banyak di antaranya bukan ranah tugas formal kepolisian. Namun ia tetap datang, mendengarkan, menengahi, dan menyelesaikan tanpa menghakimi.

Bahkan mahasiswa yang buntu mengerjakan skripsi pernah merasakan bantuannya. Tanpa tarif, tanpa pamrih. “Gaji dari institusi sudah cukup untuk keluarga saya. Sisanya, biar Tuhan yang menghitung,” kata Cak Sam saat ditanya motivasinya.

Sebagai manusia, Cak Sam pun tak luput dari masalah. Namun ia menghadapinya dengan prinsip sederhana. “Tuhan tidak pernah tidur. Apa pun yang kita dapatkan dari-Nya, baik yang menurut kita baik maupun kurang baik, semuanya bermuara kepada-Nya,” ujarnya sambil tersenyum.

Di era ketika kepercayaan publik pada polisi kerap diuji, Cak Sam memilih cara revolusioner: menjadi manusia terlebih dahulu, baru kemudian menjadi polisi. Ia hadir sebelum diminta, mendengarkan dengan hati, dan pulang tanpa membawa apa pun kecuali rasa syukur.

Tentu tidak semua sepakat dengan caranya. Ada yang meragukan, ada yang merasa tidak nyaman dengan polisi yang “terlalu masuk” ke urusan warga. Namun satu hal sulit dibantah: Indonesia butuh lebih banyak sosok seperti Cak Sam.

Ia bukan polisi yang menunggu laporan di balik meja atau bergerak hanya karena perintah. Ia adalah manusia berseragam yang percaya bahwa pengabdian sejati tidak butuh tepuk tangan. Cukup doa dan ridha Tuhan Yang Maha Melihat.

Mungkin ia hanya satu dari ribuan personel yang bertugas hari ini. Namun satu Cak Sam yang tulus, bisa mengubah cara satu provinsi memandang polisinya.
(Fauji/*)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *