Daerah  

Karhutla Kotim Tembus 1.412 Hektare, Seranau Jadi Titik Terparah dengan 703,5 Hektare Lahan Terbakar

SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus menunjukkan ancaman serius. Hingga 21 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai 1.412,14 hektare.

Dari luasan tersebut, Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan dampak karhutla paling parah. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, sebanyak 703,5 hektare lahan di wilayah tersebut telah terbakar.

Banner Website

Angka itu menyumbang hampir separuh dari total luasan karhutla di Kotim. Kondisi tersebut menempatkan Seranau sebagai kawasan dengan luasan kebakaran tertinggi dibandingkan 17 kecamatan lainnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kondisi karhutla di daerah itu masih dinamis. Petugas masih menemukan titik-titik kebakaran sehingga penanganan dan pemantauan terus dilakukan.

“Karhutla di Kotim memang terus meluas. Kondisi di lapangan masih dinamis karena titik kebakaran masih ditemukan di sejumlah wilayah,” kata Multazam.

Setelah Seranau, luasan karhutla terbesar tercatat di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan 250,20 hektare, disusul Baamang 139,66 hektare. Kemudian Mentaya Hilir Utara 83,20 hektare, Pulau Hanaut 82,65 hektare dan Parenggean 58,5 hektare.

Data tersebut memperlihatkan bahwa besarnya luasan kebakaran tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah kejadian. Mentawa Baru Ketapang tercatat mengalami 180 kejadian dan Baamang 171 kejadian, sedangkan Seranau menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar paling besar.

Sepanjang 2026, BPBD Kotim mencatat telah menangani 420 kejadian karhutla. Sementara itu, jumlah titik panas atau hotspot juga telah mencapai 6.279 titik hingga 21 Agustus.

Multazam menyebut salah satu kendala dalam penanganan adalah kondisi sejumlah lokasi yang sulit dijangkau. Api yang masih ditemukan di lapangan juga berpotensi kembali membesar dan menjalar apabila tidak segera ditangani.

“Yang menjadi tantangan adalah api masih bisa muncul dan menjalar, sementara beberapa lokasi cukup jauh dan akses menuju titik kebakaran tidak mudah. Karena itu, penanganan harus dilakukan secara cepat dan bersama-sama,” ujarnya.

Penanganan karhutla pun tidak hanya dilakukan dengan memadamkan api. Petugas juga melakukan pemantauan dan penyekatan untuk mencegah rambatan api, terutama pada kawasan dengan hamparan lahan terbakar yang luas.

BPBD bersama unsur gabungan terus melakukan pemadaman dan pemantauan di sejumlah titik. Wilayah yang berada di sekitar permukiman juga menjadi perhatian agar kebakaran tidak berkembang dan mengancam aktivitas masyarakat.

Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan kemunculan api atau asap di sekitar lingkungan. Kecepatan laporan dinilai penting agar api dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Dengan luas lahan terbakar yang telah mencapai 1.412,14 hektare dan ratusan kejadian sepanjang tahun, karhutla masih menjadi salah satu ancaman utama di Kotim. Seranau menjadi wilayah yang paling mencolok karena menyumbang 703,5 hektare dari total luasan lahan yang terbakar tersebut. (Sg)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *