Kepala SMA Negeri 1 Sampit, M. Darma Setiawan, S.Pd. menyampaikan rasa bangga atas capaian Axel yang berhasil menembus tingkat nasional.
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjuangan. Bagi Axel Giyofandhi, siswa kelas XI F1A SMA Negeri 1 Sampit, kegagalan justru menjadi pijakan untuk bangkit dan membuktikan kemampuan.
Setelah dua kali gagal menembus Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika saat masih duduk di bangku SMP, Axel kini berhasil melangkah jauh di ajang yang sama. Namun, kali ini ia memilih bidang Biologi dan berhasil menembus babak final OSN tingkat nasional.
Axel menjadi salah satu dari 60 finalis OSN Biologi dari seluruh Indonesia. Pencapaian tersebut sekaligus mengantarkannya membawa nama SMA Negeri 1 Sampit dan Kalimantan Tengah ke panggung kompetisi sains tingkat nasional.
Perjalanan menuju titik tersebut tidak didapat dengan mudah. Saat mengikuti OSN Matematika di bangku SMP, langkah Axel dua kali terhenti. Bahkan, ia belum mampu menembus seleksi hingga tingkat provinsi.
Kegagalan tersebut sempat menjadi pengalaman berat. Namun, dukungan keluarga membuat Axel tidak berhenti mencoba. Ada satu pesan yang terus menjadi pengingat baginya bahwa kegagalan dalam sebuah kompetisi tidak berarti kemampuan seseorang berakhir.
“Kegagalan OSN bukan akhir dari kemampuanmu,” menjadi salah satu motivasi yang terus dibawa Axel dalam perjalanan berikutnya.
Memasuki SMA, Axel memilih bidang Biologi. Pilihan tersebut bukan sekadar untuk kembali mengikuti OSN, tetapi juga karena ia ingin menantang dirinya sendiri, mendalami sesuatu yang disukai, sekaligus mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimilikinya dapat berkembang.
Ia kemudian menjalani proses belajar dengan lebih serius dan terarah. Axel belajar secara mandiri, mengikuti bimbingan dari sekolah, serta memanfaatkan bimbingan belajar secara daring untuk memperkuat pemahamannya terhadap materi Biologi.
Tidak ada proses instan. Setiap tahapan seleksi menjadi ujian tersendiri, mulai dari seleksi tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga seleksi nasional.
Persaingan semakin ketat ketika Axel memasuki tahapan nasional. Ia harus menghadapi peserta-peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melewati tahapan semifinal nasional, namanya akhirnya masuk dalam daftar 60 finalis OSN Biologi tingkat nasional.
Di balik keberhasilan tersebut, ada perjuangan menjaga konsistensi belajar. Axel harus berhadapan dengan rasa lelah, tekanan, kejenuhan, hingga momen ketika semangat mulai turun.
Namun, pengalaman dua kali gagal di masa lalu justru menjadi pengingat agar ia tidak kembali berhenti di tengah jalan.
Ketika berada di ambang menyerah, muncul satu motivasi yang membuatnya kembali memaksa diri untuk bertahan.
“Aku tidak bisa gagal lagi,” menjadi kalimat yang terus mendorong Axel untuk kembali belajar dan memberikan usaha terbaik.
Bagi Axel, kegagalan sebelumnya bukan sesuatu yang harus terus disesali. Pengalaman itu justru mengajarkannya untuk memperbaiki cara belajar, lebih disiplin, dan berani menghadapi tantangan yang lebih besar.
Perjuangan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala SMA Negeri 1 Sampit, M. Darma Setiawan, S.Pd. Ia menyampaikan rasa bangga atas capaian Axel yang berhasil menembus tingkat nasional.
“Selamat kepada Axel yang telah berjuang maksimal hingga berhasil menembus OSN tingkat nasional mewakili Kalimantan Tengah. Terima kasih juga kepada Bapak dan Ibu Guru pembimbing Biologi yang telah membersamai Axel hingga sampai ke jenjang nasional. Demikian juga pembimbing yang lain, tetap semangat. Semoga tahun depan lebih banyak lagi yang menjadi finalis tingkat nasional,” ungkapnya.
Menurutnya, pencapaian Axel bukan hanya tentang hasil kompetisi, tetapi juga tentang proses panjang yang telah dijalani dengan penuh ketekunan.
Dukungan juga datang dari Koordinator Bidang Peningkatan Mutu sekaligus salah satu pembimbing Biologi SMA Negeri 1 Sampit, Christina Eka Armawaty, S.Pd.
Ia menilai perjuangan dan persiapan Axel patut mendapat apresiasi. Terlebih, menjadi salah satu dari 60 finalis OSN Biologi tingkat nasional merupakan pencapaian yang tidak mudah.
“Semoga pada tahap final nanti Axel dapat memberikan kemampuan terbaiknya,” ujarnya.
Dalam proses persiapan, sekolah juga memberikan ruang yang cukup luas bagi Axel untuk mengembangkan pola belajarnya sendiri. Ia tidak harus selalu mengikuti pola yang seragam dengan siswa lainnya.
Axel diberikan keleluasaan menentukan materi yang ingin diprioritaskan dan didalami setiap hari. Kebebasan tersebut membuatnya memiliki kendali lebih besar terhadap proses belajar yang dijalani.
Guru kemudian mengambil peran sebagai pendamping. Ketika menemukan kesulitan, Axel dapat berdiskusi dan mendapatkan arahan tanpa merasa tertekan.
Pola tersebut membuat proses persiapan tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik. Kondisi mental dan emosional Axel juga menjadi perhatian sehingga ia dapat belajar dengan lebih tenang, percaya diri, dan tetap memiliki motivasi.
Lingkungan belajar yang kondusif tersebut perlahan membuat rasa cemas yang sebelumnya muncul ketika menghadapi kompetisi dapat dikelola dengan lebih baik.
Kini, tantangan yang lebih besar sudah menanti. Babak final OSN 2026 dijadwalkan berlangsung secara luring pada 10–14 September 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur.
Axel akan kembali berhadapan dengan siswa-siswa terbaik dari seluruh Indonesia untuk memperebutkan hasil terbaik di bidang Biologi.
Bagi SMA Negeri 1 Sampit, keberhasilan Axel melaju ke final nasional menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, perjalanan tersebut juga menjadi pesan bagi siswa lain bahwa kegagalan dalam sebuah kompetisi bukan berarti kemampuan berhenti sampai di sana.
Dari dua kegagalan di masa SMP, Axel justru menemukan alasan untuk terus mencoba. Kini, ia berdiri di panggung nasional bukan hanya membawa hasil belajarnya, tetapi juga membawa cerita tentang perjuangan, dukungan keluarga, pendampingan guru, serta keberanian untuk bangkit.
Seluruh keluarga besar SMA Negeri 1 Sampit berharap Axel mampu memberikan kemampuan terbaik pada babak final nanti dan membawa pulang hasil membanggakan bagi sekolah maupun Kalimantan Tengah.
Perjalanan Axel kini tinggal selangkah lagi menuju puncak. Dari kegagalan yang pernah membuat langkahnya terhenti, ia justru berhasil membuka jalan menuju panggung nasional.
Selamat berjuang, Axel. Buktikan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan awal untuk melangkah lebih jauh. (SG).












