Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lapas Sampit, diikuti Kepala Lapas bersama jajaran petugas dan WBP
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit bukan sekadar agenda keagamaan. Di balik tembok dan jeruji, momentum tersebut menjadi ruang untuk menumbuhkan harapan, memperkuat iman, sekaligus mendorong warga binaan berani memulai langkah baru dalam kehidupan.
Suasana khidmat menyelimuti kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Lapas Kelas IIB Sampit, Rabu (26/8/2026). Kegiatan diikuti Kepala Lapas bersama jajaran petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Di tengah keterbatasan ruang gerak karena sedang menjalani masa pidana, para warga binaan diajak menjadikan kisah dan keteladanan Rasulullah SAW sebagai sumber inspirasi untuk memperbaiki diri. Nilai kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama menjadi pesan penting yang diharapkan tertanam dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi warga binaan, pembinaan keagamaan seperti ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan hidup, serta memikirkan masa depan yang ingin dibangun setelah keluar dari Lapas.
Lapas Kelas IIB Sampit terus mendorong agar masa pembinaan tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban menjalani hukuman, tetapi juga menjadi proses panjang untuk membentuk karakter dan menumbuhkan kesadaran. Melalui berbagai kegiatan pembinaan, warga binaan diarahkan agar memiliki bekal mental, spiritual dan sosial ketika nantinya kembali ke lingkungan masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani, menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi merupakan momentum untuk memperkuat pembinaan kepribadian dan spiritual warga binaan.
“Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, kami berharap seluruh petugas dan WBP dapat mengambil hikmah serta meneladani akhlak Rasulullah SAW. Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan keimanan, memperkuat semangat menjadi pribadi yang lebih baik, serta menjadi bekal bagi WBP untuk kembali ke masyarakat dengan membawa perubahan yang positif,” ujar Kalapas.
Menurutnya, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kesadaran untuk memperbaiki sikap, meningkatkan ibadah, menghargai sesama dan meninggalkan kebiasaan buruk juga merupakan bagian dari proses hijrah.
Pesan itu menjadi penting bagi warga binaan yang sedang menjalani proses pembinaan. Sebab, masa di dalam Lapas diharapkan tidak berlalu begitu saja, melainkan menjadi kesempatan untuk mempersiapkan diri menyambut kehidupan setelah bebas.
Kegiatan Maulid Nabi tersebut sekaligus memperlihatkan komitmen Lapas Kelas IIB Sampit dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya menekankan kedisiplinan, tetapi juga menyentuh sisi spiritual dan kemanusiaan.
Di balik jeruji, harapan untuk berubah tetap terbuka. Maulid Nabi menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak harus menjadi penentu masa depan. Dengan pembinaan dan kemauan untuk berbenah, warga binaan diharapkan mampu menapaki lembar kehidupan baru sebagai pribadi yang lebih baik dan siap kembali diterima di tengah masyarakat. (Sg)












