Kalapas Sampit, Muhammad Yani saat memberikan arahan dalam apel pagi pegawai yang berlangsung di halaman depan Lapas Sampit, Senin (31/8/2026).
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, mulai menjadi perhatian di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit. Kondisi udara yang berkabut membuat jajaran lapas meningkatkan kewaspadaan untuk memastikan aktivitas warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan pegawai tetap berjalan dengan aman.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang dan kenyamanan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan apabila paparan berlangsung terus-menerus. Lapas Sampit pun menyiapkan langkah antisipasi sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan kondisi udara yang semakin buruk.
Kepala Lapas Sampit, Muhammad Yani, menyampaikan bahwa perlindungan terhadap WBP dan pegawai menjadi perhatian bersama di tengah kondisi kabut asap yang terjadi akibat karhutla.
“Kondisi udara saat ini cukup berkabut akibat asap karhutla. Saya minta agar masker dan tabung oksigen dipersiapkan sebagai langkah antisipasi apabila sewaktu-waktu diperlukan. Kita tetap melaksanakan tugas dengan baik, tetapi kesehatan dan keselamatan seluruh jajaran juga harus menjadi perhatian bersama,” ujar Muhammad Yani.
Arahan tersebut disampaikan Muhammad Yani dalam apel pagi pegawai yang berlangsung di halaman depan Lapas Sampit, Senin (31/8/2026). Apel tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menyampaikan perkembangan kondisi lingkungan dan mengingatkan jajaran agar tidak mengabaikan faktor keselamatan selama menjalankan tugas.
Masker dipersiapkan untuk membantu mengurangi paparan asap, sementara tabung oksigen disiagakan sebagai bagian dari kesiapan menghadapi kondisi darurat apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Langkah tersebut juga menjadi bentuk antisipasi agar lingkungan lapas tetap siap menghadapi perubahan kualitas udara.
Bagi WBP, kondisi lingkungan menjadi perhatian tersendiri karena seluruh aktivitas mereka berlangsung di dalam kawasan lapas. Mulai dari kegiatan pembinaan hingga aktivitas sehari-hari tetap harus berjalan dengan memperhatikan situasi dan kondisi udara.
Begitu pula dengan pegawai yang setiap hari melaksanakan tugas pengamanan dan pelayanan. Kondisi kabut asap membuat kesiapsiagaan menjadi penting agar tugas tetap terlaksana tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan.
Fenomena kabut asap di Sampit sendiri tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas karhutla di sejumlah wilayah. Asap dari titik kebakaran dapat terbawa angin dan menyebar ke kawasan lain, sehingga dampaknya dapat dirasakan masyarakat meskipun lokasi kebakaran berada cukup jauh.
Situasi tersebut membuat kewaspadaan tidak hanya diperlukan oleh masyarakat di luar kawasan terdampak, tetapi juga berbagai fasilitas pelayanan publik yang tetap harus beroperasi. Lapas menjadi salah satu fasilitas yang harus memastikan kegiatan pembinaan dan pengamanan tetap berlangsung di tengah kondisi lingkungan yang kurang ideal.
Muhammad Yani meminta jajaran tetap menjalankan tugas secara optimal dengan mengutamakan keselamatan. Kesiapan peralatan perlindungan diharapkan dapat memberikan respons cepat apabila kondisi kabut asap mengalami peningkatan.
Dengan langkah antisipasi tersebut, Lapas Sampit berupaya menjaga agar dampak kabut asap tidak mengganggu keamanan dan ketertiban di dalam lapas. Perlindungan terhadap WBP dan pegawai menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh aktivitas tetap berlangsung secara aman selama fenomena kabut asap masih terjadi di Sampit. (Sg)












