SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan Masa Pengenalan Lingkungan Kelas (MPLK) di SDN 4 Mentawa Baru Hulu tidak sekadar menjadi ajang memperkenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari tersebut dirancang untuk membangun karakter, menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman, hingga menanamkan etika dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penggunaan teknologi digital.
Kepala SDN 4 Mentawa Baru Hulu, Muhammad Hasan, menyampaikan bahwa pelaksanaan MPLS dan MPLK tahun ini lebih diarahkan pada penguatan pendidikan karakter dengan melibatkan peran aktif orang tua.
“Materi pokok dalam MPLS ini di antaranya Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pagi ceria dengan kegiatan senam Anak Indonesia Hebat, budaya 5S yaitu senyum, sapa, salam, kemudian gerakan sekolah asri, serta program tambahan sekolah seperti anti bullying dan pencegahan kekerasan,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, sekolah juga memperkenalkan konsep BSAN (Budaya Sekolah Aman dan Nyaman) sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi seluruh warga sekolah.
“Sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak. Karena itu tidak boleh ada bullying, tidak boleh ada perbedaan perlakuan karena agama, latar belakang ekonomi, maupun hal lainnya. Semua anak harus merasa aman dan nyaman berada di sekolah,” jelasnya.
Selain MPLS, kegiatan MPLK juga menjadi bagian penting untuk mengenali kemampuan awal peserta didik melalui asesmen awal. Langkah tersebut dilakukan agar guru dapat memahami karakter, kebutuhan, serta kemampuan masing-masing anak sebelum menentukan metode pembelajaran.
“Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Dengan asesmen awal, guru bisa mengetahui kondisi awal anak sehingga pembelajaran bisa disesuaikan,” katanya.
Muhammad Hasan menambahkan, pendidikan di sekolah tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana membentuk siswa yang memiliki karakter, adab, dan kebiasaan baik sejak dini.
“Yang paling utama dalam MPLS ini adalah bagaimana membangun karakter anak. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi mereka, sehingga anak-anak merasa bahwa sekolah adalah rumah kedua,” ujarnya.
Ia berharap melalui kegiatan MPLS dan MPLK, peserta didik baru dapat tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, disiplin, peduli terhadap lingkungan, mampu menghargai sesama, serta bijak dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Harapan kami, SDN 4 Mentawa Baru Hulu tidak hanya menjadi tempat anak-anak belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh yang membentuk anak-anak berkarakter, beradab, dan memiliki kebiasaan baik untuk masa depan,” imbuh Hasan.
Sementara itu, Ketua Panitia MPLS SDN 4 Mentawa Baru Hulu, Siti Rumilah, menyampaikan bahwa pelaksanaan MPLS hingga hari kedua berjalan lancar berkat dukungan seluruh panitia serta keterlibatan aktif orang tua.
“Alhamdulillah sampai hari kedua kegiatan berjalan lancar. Panitia luar biasa dan orang tua juga sangat aktif mendampingi anak-anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keterlibatan orang tua pada awal kegiatan diberikan ruang agar mereka dapat melihat secara langsung proses pendampingan sekolah terhadap peserta didik baru.
“Anak-anak ini baru pertama masuk sekolah, jadi orang tua diberi kesempatan melihat apakah anaknya aman, apakah nyaman. Setelah mereka melihat prosesnya, harapannya mereka bisa percaya sepenuhnya kepada sekolah,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya sinergi antara sekolah dan keluarga.
“Sekolah tidak akan maju tanpa kerja sama orang tua. Sebagus apa pun sekolah dan sehebat apa pun guru, fondasi utama tetap ada di rumah. Orang tua adalah bagian penting dalam membentuk adab, karakter, dan arah perkembangan anak,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, SDN 4 Mentawa Baru Hulu juga memberikan perhatian terhadap perkembangan anak di era digital. Sekolah menanamkan pentingnya etika bermedia sosial serta penggunaan teknologi secara bijak.
“Anak-anak harus tahu bahwa jejak digital itu terekam. Jangan mudah membagikan informasi yang belum diketahui kebenarannya, harus menjaga tutur kata di media sosial, dan memahami bahwa apa yang dilakukan di dunia digital memiliki dampak,” jelasnya.
Ia menegaskan, sekolah tidak melarang penggunaan telepon genggam, namun tetap memberikan batasan agar penggunaannya sesuai kebutuhan dan mendapat pendampingan orang tua.
“Bukan berarti anak tidak boleh menggunakan HP. Boleh, tetapi ada aturan, ada waktunya, dan harus didampingi. Orang tua juga harus menjadi contoh dalam penggunaan teknologi,” katanya.
Untuk lingkungan sekolah, siswa tetap tidak diperbolehkan membawa HP secara bebas. Penggunaan perangkat digital hanya diperkenankan apabila berkaitan dengan pembelajaran dan atas arahan guru.
“Kalau ada pembelajaran yang memang membutuhkan HP, misalnya mencari informasi tertentu, guru akan mengarahkan. Tetapi jika dibebaskan membawa HP setiap hari, pengawasannya akan sulit dan bisa menimbulkan masalah,” pungkasnya.
Dalam pelaksanaan MPLS, SDN 4 Mentawa Baru Hulu juga menggandeng pihak mitra, yakni Bintang Swalayan. Siswa akan menampilkan berbagai kemampuan dari materi yang telah diberikan selama kegiatan, kemudian ditutup dengan pemberian apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi peserta didik. (Sg).












