SAMPIT.INDOBORNEONEWS– Warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dibuat waspada setelah dua kali kemunculan satwa liar terjadi dalam waktu berdekatan. Beruang madu dan orangutan dilaporkan memasuki area yang berdekatan dengan aktivitas manusia, memicu kekhawatiran di tengah musim buah dan awal kemarau.
Peristiwa pertama terjadi di kawasan Jalan Sampit–Kotabesi, tepatnya di wilayah Kelurahan Kobes Hilir. Seorang warga yang tengah mencari pakis di area semak sekitar jalan utama tiba-tiba dikejutkan kemunculan seekor beruang madu yang berada tidak jauh dari lokasi dirinya beraktivitas.
Situasi sempat menegangkan ketika jarak keduanya hanya terpaut beberapa puluh meter. Namun beruang tersebut diduga tidak merasa terancam dan segera berbalik arah masuk ke area lebih lebat tanpa melakukan kontak dengan manusia.
Belum reda kekhawatiran warga, laporan serupa kembali muncul beberapa hari kemudian. Seekor orangutan dilaporkan terlihat bergerak di area perkebunan kelapa sawit yang berada di perbatasan Kecamatan Baamang dan Kotabesi.
Kemunculan primata dilindungi itu sempat menarik perhatian warga yang melintas, karena lokasi penampakan berada tidak jauh dari jalur aktivitas perkebunan. Warga kemudian segera melapor kepada aparat setempat sebelum diteruskan ke pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk penanganan lebih lanjut.
“Laporan pertama terkait beruang madu. Warga yang sedang mencari pakis melihat beruang berada tidak jauh dari tepi jalan. Saat mengetahui ada manusia, beruang itu langsung pergi menjauh,” kata komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, Kamis (25/6/2026).
Petugas menduga, meningkatnya aktivitas satwa liar ke wilayah manusia dipicu oleh ketersediaan pakan alami di hutan yang mulai berkurang, sementara sejumlah tanaman buah di sekitar permukiman sedang memasuki masa panen.
Kondisi ini membuat satwa seperti beruang madu dan orangutan terdorong mencari sumber makanan alternatif, sehingga lebih sering melintasi atau memasuki area kebun warga.
Pihak BKSDA mengingatkan bahwa interaksi langsung antara manusia dan satwa liar berpotensi menimbulkan risiko bagi kedua pihak. Warga diminta untuk tidak melakukan pengejaran atau tindakan agresif jika kembali menemui satwa liar di sekitar kebun maupun permukiman.
“Jangan mencoba menangkap, mengusir secara agresif, apalagi melukai satwa tersebut. Segera laporkan kepada petugas yang berwenang agar bisa ditangani dengan baik,” tegas Muriansyah.
Masyarakat juga diimbau segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan secara aman tanpa menimbulkan konflik yang lebih besar.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa pergeseran habitat satwa masih terus terjadi, terutama saat musim buah dan perubahan cuaca berlangsung di wilayah Kotim. (Sg).












