Daerah  

Peringati Hari Talasemia Sedunia: POPTI Sampit Gaungkan Deteksi Dini untuk Masyarakat Kotim

Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk POPTI Kalteng dalam kesehatan masyarakat yang ada diwilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (26/6).

SAMPIT, Indoborneo News – Perhimpunan Orangtua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar Peringatan Hari Talasemia Sedunia di Swalayan UMKM Kotim, Sampit, Jumat (26/6/2026). Kegiatan mengusung tema “Tidak Lagi Tersembunyi, Menemukan Yang Belum Terdiagnosis”.

Peringatan ini merupakan bentuk kepedulian POPTI Sampit terhadap kesehatan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur. Tujuannya meningkatkan kesadaran publik tentang penyakit kelainan darah genetik yang menyebabkan gangguan pembentukan hemoglobin sehingga penderitanya mengalami anemia atau kurang darah.

Banner Website

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Pemkab Kotim, Sekretaris Lurah MB Hulu, Ketua POPTI Sampit didampingi Penasehat, perwakilan RSUD Dr. Murjani, BPJS Kesehatan Sampit, Universitas Darwan Ali Sampit, Kalbe Farma Sampit, Klinik Regina Sampit, PMI Kotim, dan penderita talasemia 49 dari Sampit dan 16 peserta dari luar Sampit.

Ketua POPTI Sampit Reni Septio Dewi mengatakan, peringatan tahun 2026 berhasil digelar kembali di Kotawaringin Timur. Ia menyebut talasemia termasuk penyakit langka yang tidak mudah terdeteksi hanya melalui pemeriksaan kesehatan umum.

“Kami dari POPTI Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur akan melakukan skrining, dengan tujuan mendeteksi risiko penyakit sejak dini. Agar langkah pencegahan dan pengobatan bisa segera dilakukan, karena ini merupakan salah satu cara untuk memutuskan mata rantai penyakit itu sendiri,” kata Reni.

Reni berharap Pemkab Kotim semakin memperhatikan para penyandang talasemia. Ia juga mengimbau orang tua yang memiliki anak penyandang talasemia agar rutin memeriksakan diri ke kantor POPTI di Sampit.

“Talasemia ini penyakit yang tidak menular. Namun untuk memutuskan mata rantainya, kami minta dukungan masyarakat agar perjuangan POPTI mendapatkan hasil sesuai harapan demi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Ia menyebut POPTI berdiri sejak awal 2021. Jumlah penyandang talasemia di Kalteng terus bertambah dari 25 orang pada 2021 menjadi 69 orang pada 2026. Data itu mencakup wilayah Sampit, Kuala Pembuang, Kereng Pangi, hingga Katingan.

Penasihat POPTI Sampit, Admadisastra, menyampaikan kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memberi perhatian kepada anak-anak penyandang talasemia.

“Sembuhnya atau pemutus mata rantai dari talasemia ini perlu pertolongan berupa kepedulian kemanusiaan kita dalam mencegah sejak dini di masyarakat,” kata Admadisastra.

Ia mengapresiasi dukungan Pemkab Kotim di bawah kepemimpinan Bupati Halikinnor. Sejak 2021 hingga 2026, pemerintah telah membantu 450 kantong darah bagi penyandang talasemia dan memfasilitasi kantor POPTI Sampit.

“Ini bukti positif pemerintah dalam mengakomodir kegiatan-kegiatan sosial. Ke depan kami akan berkoordinasi dengan Pemda untuk menghadirkan orang tua asuh bagi anak-anak talasemia yang berprestasi,” ujarnya.

Admadisastra berharap Dinas Kesehatan, pihak CSR, dan pihak ketiga terus bersinergi menangani talasemia di Kotim. “Kami minta bimbingan dari Dinkes melalui Pemda Kotim agar program ini berjalan berkesinambungan,” katanya.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama, pertunjukan sulap, nyanyian anak-anak, dan pembagian bingkisan dari POPTI Sampit kepada peserta yang hadir.
(Fauji)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *