SAMPIT.Indoborneonews.com– Kelangkaan minyak goreng subsidi merek Minyakita di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menuai sorotan. DPRD Kotim meminta pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) segera turun tangan melakukan pengawasan distribusi agar persoalan tersebut tidak terus berlarut.
Anggota DPRD Kotim Fraksi Golongan karya (Golkar) Abdul Kadir, menilai kondisi kelangkaan Minyakita saat ini sudah cukup meresahkan masyarakat. Pasalnya, minyak goreng subsidi yang seharusnya mudah ditemukan justru semakin sulit diperoleh, baik di warung kecil maupun sejumlah supermarket di Kota Sampit.
Menurutnya, persoalan utama diduga bukan karena stok kosong di tingkat produsen, melainkan adanya masalah pada jalur distribusi hingga barang sampai ke tangan masyarakat.
“Kami meminta DKUKMPP Kotim segera turun melakukan pengawasan distribusi Minyakita di lapangan. Jangan sampai ada dugaan permainan distribusi ataupun penimbunan yang merugikan masyarakat,” ujar Abdul Kadir, Kamis (11/6/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari para pedagang, pasokan Minyakita sebenarnya masih masuk ke wilayah Sampit dalam jumlah cukup besar. Namun anehnya, stok tersebut disebut selalu habis dalam waktu sangat cepat.
“Salah seorang pedagang di kawasan Baamang menyampaikan kepada saya, kemarin sore sekitar pukul lima ada bongkaran Minyakita di toko dekat tempatnya. Tetapi pagi harinya saat ditanya lagi, jawabannya sudah habis,” katanya.
Politisi Golkar yang dikenal peduli terhadap keluhan warga tersebut mengaku heran karena satu truk minyak goreng subsidi seharusnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama beberapa hari. Namun fakta di lapangan menunjukkan stok langsung lenyap bahkan sebelum 24 jam.
“Masa satu truk belum sampai sehari langsung habis. Ini tentu menjadi pertanyaan besar, kemana barang itu sebenarnya,” tegasnya.
Menurut Abdul Kadir, kondisi seperti ini tidak boleh dianggap biasa karena Minyakita merupakan program subsidi pemerintah yang diperuntukkan bagi masyarakat luas, khususnya kalangan menengah ke bawah.
Karena itu, distribusinya harus benar-benar diawasi agar tepat sasaran.
Ia menilai lemahnya pengawasan dapat membuka peluang terjadinya penyimpangan distribusi yang menyebabkan barang sulit ditemukan di pasaran. Akibatnya, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak karena harus membeli minyak goreng dengan harga lebih mahal.
“Kalau melihat kondisi di lapangan, sebenarnya barang itu ada. Tetapi ketika masuk jalur distribusi ke distributor dan pengecer, barangnya seperti hilang. Ini yang perlu diawasi bersama,” ucapnya.
Selain meminta DKUKMPP Kotim aktif turun ke lapangan, Abdul Kadir juga meminta pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pola distribusi Minyakita di Kotim. Ia menilai perlu ada pengawasan rutin agar distribusi minyak subsidi benar-benar berjalan sesuai aturan.
“Pengawasan tidak cukup hanya dilakukan sesekali. Harus ada langkah konkret dan pengawasan berkelanjutan supaya masyarakat tidak terus kesulitan mendapatkan Minyakita,” katanya.
Ia juga menyoroti fakta bahwa kelangkaan kini mulai dirasakan hampir di berbagai tempat. Tidak hanya di warung kecil, sejumlah supermarket di Sampit juga disebut sering mengalami kekosongan stok Minyakita.
“Jangankan di warung kecil, di supermarket pun sekarang sering kosong. Padahal ini minyak subsidi yang mestinya paling mudah ditemukan masyarakat,” ujarnya lagi.
Dalam kondisi seperti sekarang, lanjut Abdul Kadir, pemerintah daerah harus bergerak cepat agar persoalan tidak memicu kenaikan harga minyak goreng di pasaran. Sebab ketika stok terbatas, harga di tingkat pengecer cenderung ikut naik dan semakin membebani masyarakat.
Ia berharap DKUKMPP bersama instansi terkait dapat segera menelusuri jalur distribusi Minyakita, mulai dari distributor hingga pengecer, untuk memastikan tidak ada dugaan penimbunan maupun praktik permainan distribusi.
“Pemerintah daerah harus hadir memastikan minyak subsidi ini benar-benar sampai ke masyarakat dan tidak hilang di tengah jalur distribusi. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan karena sulit mendapatkan kebutuhan pokok,” tandasnya.
Belakangan ini, kelangkaan Minyakita memang mulai banyak dikeluhkan warga Sampit. Selain sulit ditemukan di pasaran, harga minyak goreng di sejumlah tempat juga mulai mengalami kenaikan akibat terbatasnya stok yang tersedia. (Sg)












