Bukan Sekadar Menjalani Pidana! Lapas Sampit Kawal Kesehatan, 44 WBP Ikuti Asesmen

Lapas Kelas IIB Sampit menggelar kegiatan asesmen bagi sejumlah warga Binaan Pemasyarakatan sebagai bagian penting dari program rehabilitasi dan reedukasi.

SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Menjalani masa pidana tidak menghentikan hak warga binaan untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan mendapatkan pembinaan. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit, dua hal tersebut terus berjalan beriringan sebagai bagian dari proses pemasyarakatan.

Pada Rabu (7/10/2026), petugas Lapas Sampit mengawal seorang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan lanjutan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani Sampit.

Banner Website

Rujukan tersebut dilakukan setelah tim medis internal Lapas melakukan pemeriksaan dan menilai WBP membutuhkan evaluasi lebih lanjut dengan dukungan fasilitas kesehatan yang lebih memadai.

Pengawalan dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan WBP, keamanan petugas, serta ketertiban selama berada di luar lingkungan Lapas.

Sebelum berangkat, petugas memastikan kondisi WBP dan kelengkapan administrasi maupun pengamanan. Koordinasi dengan pihak RSUD dr. Murjani Sampit juga dilakukan agar proses penerimaan dan pemeriksaan dapat berlangsung dengan lancar.

Setibanya di rumah sakit, pengawasan tetap dilakukan selama rangkaian pelayanan. Mulai dari pendaftaran, pemeriksaan medis hingga pengambilan obat, petugas memastikan proses berjalan tertib hingga WBP kembali ke Lapas.

Pelayanan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan warga binaan tetap memperoleh hak kesehatan meski sedang menjalani masa pidana.

Kalapas Kelas IIB Sampit, Muhamad Yani, menegaskan pelayanan kesehatan bagi warga binaan tetap menjadi perhatian selama menjalani masa pidana.

“Setiap warga binaan berhak mendapatkan akses kesehatan yang baik. Tugas kami memastikan pelayanan tersebut terpenuhi tanpa mengesampingkan standar keamanan dan kewaspadaan petugas,” ujar Muhamad Yani.

Namun perhatian terhadap WBP tidak berhenti pada pelayanan kesehatan.

Pada Kamis (8/10/2026), Lapas Sampit melanjutkan upaya pembinaan melalui asesmen terhadap 44 WBP yang terjerat perkara tindak pidana narkotika.

Asesmen dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat risiko, kebutuhan pembinaan, serta kondisi psikologis warga binaan. Pemetaan tersebut penting agar program pembinaan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Proses tersebut juga menjadi bagian dari rehabilitasi dan reedukasi. WBP tidak hanya diarahkan untuk menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memahami persoalan yang dihadapi serta membangun perubahan positif selama berada di dalam Lapas.

Hasil asesmen dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun langkah pembinaan berikutnya. Dengan pemetaan yang lebih jelas, pendekatan terhadap WBP diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah dan sesuai kebutuhan.

Pembinaan semacam ini memiliki arti penting karena keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari berakhirnya masa pidana. Lebih jauh, proses tersebut juga berkaitan dengan kesiapan warga binaan ketika nantinya kembali ke keluarga dan lingkungan masyarakat.

Karena itu, aspek kesehatan, kondisi psikologis, kebutuhan pembinaan dan rehabilitasi menjadi bagian yang saling berkaitan. WBP yang mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik dapat menjalani pembinaan secara lebih optimal, sementara hasil asesmen membantu menentukan bentuk pendampingan yang dibutuhkan.

Lapas Sampit terus berupaya menjalankan fungsi pemasyarakatan dengan menyeimbangkan aspek keamanan dan pemenuhan hak warga binaan. Pelayanan tetap diberikan sesuai ketentuan, sementara pengamanan tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap kegiatan.

Pada akhirnya, proses pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani hukuman, tetapi juga membuka ruang bagi warga binaan untuk memperbaiki diri.

Dari pelayanan kesehatan hingga asesmen pembinaan, setiap langkah diarahkan agar masa pidana dapat menjadi bagian dari proses perubahan. Harapannya, ketika waktunya kembali ke tengah masyarakat tiba, warga binaan memiliki kondisi yang lebih baik serta bekal untuk menjalani kehidupan secara lebih positif. (S)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *