Kepala SMAN 3 Sampit, Mulyadi, S.Pd, M.M
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah harus beradaptasi. Namun, kondisi tersebut tidak membuat semangat belajar di SMA Negeri 3 Sampit ikut meredup.
Sekolah yang berada di Jalan Gunung Kerinci, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), itu memilih menyesuaikan cara belajar dengan kondisi udara. Ketika kualitas udara memburuk, pembelajaran dilakukan dari rumah. Saat udara mulai membaik, sekolah kembali membuka ruang belajar melalui tatap muka secara terbatas.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya SMAN 3 Sampit menjaga dua hal sekaligus: kesehatan siswa tetap terlindungi, sementara proses pendidikan tidak kehilangan ritmenya.
Kepala SMAN 3 Sampit, Mulyadi, S.Pd, M.M, mengatakan pihaknya tetap berpedoman pada Surat Edaran Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 400.3.13.1/4747/DISDIK.SET.03/2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan.
“Kalau ISPU sedang pekat, kami melakukan PJJ. Ketika kondisi mulai membaik, kami lakukan pembelajaran terbatas dengan tetap melihat kondisi udara,” ujar Mulyadi, Senin (5/10/2026).
Penyesuaian tidak hanya dilakukan pada metode belajar, tetapi juga pada waktu dan durasi kegiatan di sekolah.
Jika dalam kondisi normal siswa mulai masuk sekitar pukul 06.15 WIB, selama pembelajaran terbatas jam masuk diundur menjadi pukul 07.30 WIB. Durasi setiap jam pelajaran yang biasanya 45 menit juga dipangkas menjadi 30 menit.
Dengan pola tersebut, kegiatan belajar dapat berlangsung lebih singkat. Siswa kemudian dipulangkan sekitar pukul 12.30 hingga 13.00 WIB.
Semua dilakukan dengan pertimbangan sederhana, tetapi penting: semakin sedikit siswa terpapar udara luar, semakin baik perlindungan terhadap kesehatan mereka.
“Semua kami batasi dan dipercepat. Yang paling utama tetap kesehatan anak-anak, tetapi pembelajaran juga harus tetap berjalan,” katanya.
Bagi Mulyadi, kondisi udara yang tidak menentu justru menuntut sekolah untuk lebih peka membaca keadaan. Karena itu, keputusan untuk menerapkan tatap muka terbatas tidak dilakukan hanya berdasarkan jadwal, tetapi melihat perkembangan kualitas udara dan kondisi siswa.
Sekolah juga mempertimbangkan kenyamanan siswa selama berada di lingkungan pendidikan. Sebagian siswa, menurutnya, justru merasa lebih leluasa belajar di sekolah dibandingkan ketika harus mengikuti pembelajaran dari rumah.
Lingkungan sekolah yang cukup luas serta ruang kelas yang dilengkapi kipas angin menjadi salah satu faktor pendukung. Meski demikian, aktivitas di luar ruangan tetap dibatasi.
Praktik lapangan maupun kegiatan yang mengharuskan siswa berada di luar kelas untuk sementara ditiadakan.
“Kami juga melihat kondisi anak. Ada yang merasa lebih leluasa di sekolah. Tetapi kegiatan di luar kelas tetap kami tiadakan,” tuturnya.
Perubahan pola belajar ini juga tidak lepas dari masukan para orang tua. Selama menjalani pembelajaran jarak jauh, sejumlah kendala muncul. Mulai dari kebutuhan paket data hingga penggunaan telepon seluler dalam waktu lama.
Ada pula kekhawatiran pembelajaran menjadi kurang maksimal apabila PJJ berlangsung terlalu lama. Tugas yang menumpuk dan keterbatasan interaksi langsung menjadi pertimbangan lain yang disampaikan kepada pihak sekolah.
Masukan tersebut kemudian dibahas bersama pengawas pembina dan komite sekolah. Dari koordinasi itu, sekolah mendapat ruang untuk menerapkan tatap muka terbatas dengan sejumlah catatan, terutama kondisi udara harus memungkinkan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pengawas pembina dan komite. Jadi kami melakukan tatap muka dengan catatan kondisi udara memungkinkan,” jelas Mulyadi.
Di tengah semua penyesuaian tersebut, perhatian terhadap kesehatan siswa tetap menjadi prioritas.
Sekolah mengimbau siswa menggunakan masker dan turut menyediakan masker bagi mereka. Siswa yang merasa kurang sehat juga tidak dipaksakan mengikuti pembelajaran.
Jika ada yang mengalami keluhan kesehatan, sekolah memberikan kesempatan untuk beristirahat maupun mendapatkan pengobatan terlebih dahulu.
“Kami tetap menyarankan anak-anak menggunakan masker. Kalau ada yang merasa sakit, silakan berobat dulu,” ujarnya.
Pada saat PJJ diterapkan, guru pun tetap hadir di sekolah. Proses pembelajaran tetap dipersiapkan dan dijalankan oleh para guru, sementara siswa mengikuti kegiatan dari rumah.
Namun, sekolah juga melakukan evaluasi terhadap tingkat keterlibatan siswa selama pembelajaran jarak jauh. Hal ini menjadi perhatian karena tidak seluruh siswa memiliki kondisi belajar yang sama ketika berada di rumah.
Karena itu, pola pembelajaran yang fleksibel dipandang menjadi pilihan yang lebih realistis di tengah situasi kabut asap.
“Kami ingin anak-anak tetap semangat belajar. Jangan sampai karena kondisi seperti ini mereka justru kehilangan kesempatan untuk belajar,” kata Mulyadi.
Terlebih, siswa kelas XII memiliki agenda akademik yang tidak bisa ditunda begitu saja. Persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tetap menjadi perhatian sekolah.
Pengayaan diberikan agar siswa tetap memiliki kesiapan menghadapi tahapan tersebut. Sekolah juga telah menyiapkan laboratorium komputer yang nantinya digunakan untuk pelaksanaan TKA sesuai sesi.
Ketika sebagian siswa mengikuti tes di laboratorium, siswa lainnya tetap menjalani pembelajaran sesuai pengaturan sekolah.
Situasi kabut asap akhirnya menjadi ujian tersendiri bagi dunia pendidikan. Namun, SMAN 3 Sampit memilih menghadapinya dengan cara yang adaptif.
Bukan sekadar memilih antara PJJ atau tatap muka, sekolah berusaha membaca kondisi, mendengarkan orang tua, memperhatikan kesehatan siswa, sekaligus menjaga agar proses belajar tetap hidup.
Udara boleh berubah. Jadwal boleh disesuaikan. Cara belajar pun bisa berganti.
Tetapi semangat untuk memberikan pendidikan terbaik bagi siswa tetap dijaga.
Di tengah kabut asap yang belum sepenuhnya bersahabat, SMAN 3 Sampit menunjukkan bahwa pendidikan tetap bisa berjalan dengan cara yang lebih fleksibel, manusiawi, dan penuh perhatian terhadap kesehatan anak-anak. (Sg).












