SAMPIT – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit terus memperkuat program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui pengembangan budidaya sayuran hidroponik. Salah satu komoditas yang kini dibudidayakan adalah selada, sebagai bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat menjadi bekal hidup mandiri setelah kembali ke tengah masyarakat.
Program yang dilaksanakan pada Jumat (17/7/2026) tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran di bidang pertanian modern, tetapi juga merupakan implementasi Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendukung kemandirian pangan melalui sektor pertanian di lingkungan pemasyarakatan.
Budidaya selada dipilih karena memiliki prospek ekonomi yang baik, mudah dipasarkan, dan dapat dikembangkan meski di lahan yang terbatas. Melalui sistem hidroponik, warga binaan dikenalkan dengan metode bercocok tanam tanpa tanah menggunakan instalasi pipa yang dialiri larutan nutrisi sehingga tanaman dapat tumbuh lebih bersih, sehat, dan berkualitas.
Dalam kegiatan tersebut, warga binaan dilibatkan secara langsung pada seluruh tahapan budidaya. Mulai dari proses penyemaian benih menggunakan media tanam rockwool, pemindahan bibit ke instalasi hidroponik, hingga perawatan tanaman dengan menjaga keseimbangan nutrisi, sirkulasi air, serta paparan sinar matahari agar pertumbuhan selada berlangsung optimal.
Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, serta ketekunan dalam bekerja. Warga binaan didorong untuk memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh konsistensi dalam merawat tanaman setiap hari.
Keunggulan sistem hidroponik yang hemat air, efisien dalam pemanfaatan lahan, dan mampu menghasilkan produk pertanian berkualitas menjadi pengalaman berharga bagi warga binaan. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha di bidang pertanian modern setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Melalui pembinaan seperti ini, Lapas Kelas IIB Sampit menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya menjadi tempat menjalani pidana, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk membentuk pribadi yang lebih produktif dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat.
Program hidroponik juga diharapkan mampu mendukung kebutuhan pangan secara mandiri di lingkungan lapas sekaligus memperkuat budaya kerja produktif di kalangan warga binaan. Hasil budidaya nantinya tidak hanya menjadi bukti keberhasilan proses pembinaan, tetapi juga mencerminkan semangat perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani, mengatakan pembinaan kemandirian merupakan salah satu prioritas yang terus dikembangkan agar warga binaan memiliki keterampilan yang bermanfaat ketika bebas nanti.
“Melalui program budidaya hidroponik ini, kami berharap warga binaan memperoleh keterampilan yang bernilai dan mampu menjadi bekal untuk hidup mandiri setelah kembali ke masyarakat. Kegiatan ini juga merupakan wujud dukungan Lapas Kelas IIB Sampit terhadap Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui sektor pertanian,” ujar Muhammad Yani.
Menurutnya, pembinaan yang berorientasi pada keterampilan produktif merupakan investasi jangka panjang untuk membantu warga binaan membangun masa depan yang lebih baik. Dengan memiliki kemampuan bercocok tanam menggunakan teknologi hidroponik, mereka diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk bekerja maupun berwirausaha setelah kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Melalui berbagai program pembinaan yang terus dikembangkan, Lapas Kelas IIB Sampit berkomitmen menghadirkan proses pemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada pembinaan kepribadian, tetapi juga menghasilkan sumber daya manusia yang lebih mandiri, produktif, dan siap berkontribusi bagi pembangunan serta ketahanan pangan di masa mendatang. (Sg)












