SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan berpihak kepada peserta didik terus diperkuat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Tidak hanya menjadi tanggung jawab masing-masing sekolah, komitmen tersebut kini diwujudkan melalui kolaborasi lintas satuan pendidikan. Tiga sekolah menengah atas, yakni SMA Negeri 1 Cempaga, SMA Negeri 4 Sampit, dan SMA Negeri 1 Kota Besi, berinisiatif menyelenggarakan In House Training (IHT) Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Aula Aquarius Boutique Hotel Sampit, Kamis (23/7/2026).
Pelatihan yang mengangkat tema “Bergerak Bersama Mengubah Tantangan Menjadi Harapan: Mewujudkan Ekosistem Sekolah yang Aman, Nyaman, dan Berpihak pada Murid melalui Implementasi Disiplin Positif dalam Bingkai Sekolah Ramah Anak (SRA)” tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman seluruh warga sekolah mengenai pentingnya membangun budaya positif sebagai fondasi utama dalam penyelenggaraan pendidikan.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA/MA Kabupaten Kotawaringin Timur, Drs. Kodarahim, serta dihadiri Kepala SMA Negeri 1 Cempaga Muhamad Toyep, S.Pd., M.Pd., Kepala SMA Negeri 4 Sampit Ananto Wibisono, S.Pd., dan Kepala SMA Negeri 1 Kota Besi Indah Siswanti, S.Pd., M.Pd. Kehadiran para pimpinan sekolah tersebut menunjukkan keseriusan dunia pendidikan di Kotim dalam membangun sinergi untuk menghadirkan sekolah yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga menjadi ruang belajar yang aman dan membahagiakan bagi seluruh peserta didik.
Meski digagas oleh tiga sekolah, pelatihan turut melibatkan SMA Negeri 1 Cempaga Hulu sehingga menjadi ruang kolaborasi empat sekolah dalam berbagi pengalaman, praktik baik, serta strategi penerapan budaya positif di lingkungan pendidikan.
Sebanyak 109 peserta mengikuti pelatihan yang berlangsung selama delapan jam. Mereka terdiri atas kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, perwakilan orang tua, hingga peserta didik. Keterlibatan berbagai unsur tersebut mencerminkan bahwa pembangunan budaya sekolah tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, melainkan membutuhkan dukungan seluruh warga sekolah agar perubahan yang diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Sejak dimulainya kegiatan, suasana pelatihan berlangsung dinamis. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari pemaparan materi, diskusi kelompok, hingga berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, bebas dari kekerasan, perundungan, diskriminasi, maupun berbagai bentuk perlakuan yang dapat mengganggu tumbuh kembang peserta didik.
Ketua Panitia IHT, Choiril Mar-ah, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas seluruh warga sekolah dalam menerapkan disiplin positif sebagai bagian dari budaya sekolah.
Menurutnya, paradigma pendidikan saat ini tidak lagi menempatkan hukuman sebagai instrumen utama dalam membentuk perilaku peserta didik. Sebaliknya, sekolah didorong membangun kesadaran, tanggung jawab, dan karakter melalui pendekatan yang lebih manusiawi serta menghargai hak-hak anak.
“Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan pengetahuan guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan peserta didik tentang bagaimana mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman melalui implementasi disiplin positif dalam bingkai Sekolah Ramah Anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peserta berasal dari SMA Negeri 1 Cempaga sebanyak 32 orang, SMA Negeri 4 Sampit 36 orang, SMA Negeri 1 Kota Besi 38 orang, serta SMA Negeri 1 Cempaga Hulu sebanyak tiga orang.
Dalam pelaksanaannya, panitia menghadirkan Dr. Rusnanie, S.Pd., M.Pd., Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak (SRA), sebagai narasumber utama. Peserta mendapatkan penguatan mengenai tiga materi pokok, yakni implementasi disiplin positif dalam pembentukan karakter, standar Sekolah Ramah Anak, serta strategi membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.
Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diperkaya dengan contoh praktik yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah. Dengan demikian, peserta diharapkan mampu membawa perubahan nyata ketika kembali ke satuan pendidikan masing-masing.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 4 Sampit, Ananto Wibisono, S.Pd., menegaskan bahwa perubahan budaya sekolah harus dimulai dari perubahan cara pandang seluruh pendidik terhadap proses pembinaan peserta didik.
Ia menjelaskan, disiplin positif bukan berarti menghilangkan aturan di sekolah, melainkan membangun kepatuhan melalui kesadaran, komunikasi yang baik, serta hubungan yang saling menghormati antara guru dan peserta didik.
“Kita ingin lingkungan satuan pendidikan benar-benar menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Dalam disiplin positif tidak ada pendekatan yang mengedepankan hukuman, tetapi bagaimana mendidik dengan cara yang membangun sehingga siswa merasa dihargai, terlindungi, dan nyaman selama mengikuti proses pembelajaran,” katanya.
Menurutnya, ketika peserta didik merasa aman secara fisik maupun psikologis, mereka akan lebih percaya diri dalam belajar, berani mengemukakan pendapat, aktif berpartisipasi di kelas, serta mampu mengembangkan potensi akademik dan karakter secara maksimal. Kondisi tersebut menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Pada kesempatan itu, ia berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal lahirnya gerakan bersama untuk membangun budaya positif di seluruh sekolah di Kotawaringin Timur.
“Harapan kami, ilmu yang diperoleh selama IHT ini tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan di sekolah masing-masing. Dengan demikian, ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan berpihak pada peserta didik dapat terwujud, sehingga setiap anak merasa bahagia, terlindungi, dan memiliki ruang untuk berkembang secara optimal,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi ini, keempat sekolah berharap dapat menjadi contoh penerapan budaya sekolah yang aman dan ramah anak di Kotawaringin Timur. Sinergi antar sekolah diyakini menjadi modal penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter, berempati, dan mampu tumbuh dalam suasana belajar yang sehat serta menyenangkan. (Sg)












