Kebakaran lahan di Kotim
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi salah satu yang paling serius di Kalimantan Tengah. Hingga 11 September 2026, wilayah ini mencatat 21.384 hotspot, 590 kejadian karhutla, dan luas kejadian mencapai 2.524 hektare.
Angka tersebut menempatkan Kotim sebagai daerah dengan catatan hotspot dan luas kejadian karhutla tertinggi dalam infografis akumulasi karhutla BPBD Provinsi Kalimantan Tengah periode Januari hingga 11 September 2026.
Besarnya angka tersebut menunjukkan tekanan kebakaran hutan dan lahan di Kotim belum ringan. Bahkan, luas kejadian karhutla di Kotim jauh melampaui sejumlah daerah lain yang juga mencatat kasus tinggi.
Kabupaten Kapuas, misalnya, mencatat 18.932 hotspot, 252 kejadian dan luas 778,5 hektare. Sementara Palangka Raya mencatat 16.045 hotspot, 601 kejadian dan luas 542 hektare.
Kondisi tersebut semakin terasa di kawasan perkotaan Sampit. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, membuat pandangan terlihat samar dan suasana kota tampak kelabu.
Bagi warga, persoalan karhutla kini bukan lagi sekadar angka dalam laporan. Dampaknya mulai terasa langsung ketika asap memasuki kawasan permukiman dan ruang aktivitas masyarakat.
Salah seorang warga Sampit, Saleh, mengatakan kondisi asap dalam beberapa hari terakhir cukup mengganggu pandangan.
“Beberapa hari terakhir asap cukup tebal. Pandangan terlihat samar, apalagi saat asap mulai menyelimuti kawasan,” ujar Saleh, Senin (14/9).
Menurutnya, masyarakat berharap penanganan kebakaran dapat segera membuahkan hasil sehingga asap yang menyelimuti Sampit tidak terus berlarut.
“Kami berharap kebakaran lahan segera ditangani dan asap cepat berkurang. Masyarakat ingin udara kembali normal supaya aktivitas sehari-hari tidak terganggu,” katanya.
Secara keseluruhan, BPBD Kalteng mencatat 111.084 hotspot di seluruh wilayah provinsi hingga 11 September 2026. Jumlah kejadian karhutla mencapai 3.044 kejadian, dengan total luas kejadian 9.658,64 hektare.
Dari angka tersebut, Kotim menyumbang bagian yang cukup besar, terutama dari sisi luas kejadian. Dengan 2.524 hektare, luas karhutla Kotim mencapai lebih dari seperempat dari total luas kejadian yang tercatat di seluruh Kalteng.
Penanganan karhutla di Kalteng sendiri melibatkan sekitar 10.700 personel. Dukungan udara tercatat terdiri dari enam unit helikopter dan satu unit pesawat untuk mendukung kegiatan penanganan serta patroli.
Upaya penanganan juga berjalan melalui jalur penegakan hukum. BPBD Kalteng mencatat terdapat 32 penegakan hukum terkait kejadian karhutla.
Besarnya catatan Kotim menjadi sinyal bahwa pengendalian karhutla masih membutuhkan penanganan serius. Apalagi, persoalan tersebut tidak berhenti di lokasi kebakaran, tetapi ikut berdampak pada kualitas lingkungan dan aktivitas masyarakat ketika asap bergerak memasuki kawasan permukiman.
Di Sampit, warga kini kembali berhadapan dengan suasana kota yang kelabu akibat asap. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla menjadi semakin mendesak, bukan hanya untuk memadamkan api, tetapi juga mengembalikan kondisi udara agar masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih nyaman. (Sg)










