Petugas saat berjibaku memadamkan karhutla di Seranau
SAMPIT INDOBORNEONEWS– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meluas hingga diperkirakan berdampak terhadap sekitar 3.500 hektare lahan. Kondisi medan yang didominasi gambut membuat proses pemadaman tidak mudah, sehingga penanganannya membutuhkan kekuatan lintas sektor.
Pemerintah Kecamatan Seranau bersama TNI-Polri, masyarakat adat, warga dan PT Rimba Makmur Utama (RMU) bergerak bersama menangani kebakaran. Pemadaman dilakukan secara bertahap dan dilanjutkan dengan pendinginan untuk mencegah bara api kembali menyala.
Camat Seranau Dwi Kushendro mengatakan, laporan awal mengenai kebakaran diterima pihaknya pada 3 Agustus 2026. Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti Forkopimcam bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas dengan melakukan pengecekan ke lokasi.
“Setelah kita survei ternyata memang terjadi kebakaran. Namun sekarang lebih meluas karena lokasinya berada di area yang memang sulit kita jangkau dari darat,” ujarnya.
Berdasarkan estimasi sementara pemerintah kecamatan, luasan lahan terdampak mencapai sekitar 3.500 hektare. Angka tersebut masih terus dimutakhirkan melalui pemantauan di lapangan.
Dua wilayah yang menjadi perhatian utama penanganan berada di Desa Terantang Hilir dan Desa Batuah.
Besarnya luasan dan sulitnya medan membuat penanganan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Forkopimcam, TNI-Polri, masyarakat adat dan warga sekitar turun bersama dalam operasi pemadaman.
PT RMU turut memberikan dukungan kepada Satgas Karhutla Kecamatan Seranau, terutama dalam penyediaan peralatan pemadam dan logistik bagi personel yang berada di lapangan.
Kepala Zona Seranau PT RMU, Taka, mengatakan perusahaan berupaya mengambil bagian dalam penanganan kebakaran bersama pemerintah dan masyarakat.
“Dari RMU sendiri saat terjadi kebakaran hutan dan lahan ini kami membantu Satgas Kecamatan Seranau, support terkait dengan peralatan karhutla. Jadi ini kerja bersama antara PT Rimba Makmur Utama dan Forkopimcam Seranau,” katanya.
Menurutnya, dukungan masyarakat juga cukup besar. Sedikitnya lima desa dan satu kelurahan terlibat dalam operasi, yakni Desa Batuah, Terantang Hilir, Terantang, Seragam Jaya, Ganepo dan Kelurahan Mentaya Seberang.
Dukungan juga datang dari wilayah Kecamatan Cempaga, termasuk Cempaka Mulia Timur.
“100 orang lebih yang terlibat untuk melakukan operasi pemadaman,” ujarnya.
Dari PT RMU sendiri, sekitar 45 personel yang berasal dari enam zona dan bidang dikerahkan. Mereka diperkuat sekitar 100 tenaga bantuan lokal. Sementara personel TNI-Polri yang terlibat berkisar 10 hingga 20 orang.
Selain personel, dukungan berupa peralatan dan logistik juga disalurkan untuk memperkuat kebutuhan operasi di lapangan.
Berdasarkan pemantauan PT RMU, titik kebakaran pertama kali terpantau pada 21 Juli 2026. Kebakaran kembali terpantau pada 3 Agustus dan kemudian berkembang cukup luas pada 9 Agustus.
Tim gabungan selanjutnya melakukan operasi pemadaman secara intensif selama kurang lebih tujuh hari. Setelah kobaran berhasil dikendalikan, pekerjaan belum berhenti karena tim harus memastikan bara di dalam lahan gambut benar-benar padam.
“Operasi pemadaman dilakukan kurang lebih tujuh hari dan kemudian dilanjutkan dengan pendinginan sampai hari ini,” jelas Taka.
Tahap pendinginan menjadi penting karena kebakaran di lahan gambut dapat menyisakan bara di bawah permukaan. Tanpa pemantauan dan pendinginan yang memadai, api dapat kembali muncul dan meluas.
Taka menegaskan, lokasi kebakaran yang saat ini ditangani berada di luar wilayah konsesi PT RMU.
Lokasi tersebut berjarak sekitar 600 meter dari kawasan konsesi perusahaan dan mengarah ke barat. Kawasan yang terbakar berada dalam wilayah KPHP Mentaya Hilir.
Meski berada di luar konsesi, PT RMU tetap memberikan dukungan karena penanganan karhutla dinilai membutuhkan keterlibatan bersama.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan Satgas dalam melakukan pemadaman sekaligus membantu masyarakat yang terlibat langsung dalam operasi.
Dwi menjelaskan, karakter lahan menjadi salah satu kendala terbesar dalam proses pemadaman. Sebagian besar kawasan terdampak merupakan lahan gambut yang memiliki karakter berbeda dibandingkan tanah mineral.
Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat melalui lapisan gambut di bawah tanah.
“Penanganan lahan gambut ini tidak seperti tanah mineral atau tanah liat. Biasanya dia terbakar di atas dan api bisa masuk ke bawah, menyusur ke bawah,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pemadaman harus dilakukan secara berlapis. Setelah api terlihat padam, petugas tetap melakukan pendinginan dan pemantauan untuk mencari titik panas maupun bara yang masih tersisa.
Akses menuju sejumlah titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat juga menjadi tantangan tersendiri.
Terkait penyebab kebakaran, pemerintah kecamatan menyebut terdapat indikasi aktivitas pembakaran oleh oknum. Dugaan tersebut telah ditangani aparat penegak hukum dan telah dipasang police line dititik lokasi untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Dwi mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan menggunakan api, terlebih saat kondisi kemarau.
“Harapannya kita sama-sama menjaga lahan ini. Memang punya masyarakat, tetapi jangan sampai lagi membakar karena hal ini merugikan banyak orang, baik dari dampak kesehatan, ekonomi maupun aktivitas,” tegasnya.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum kebakaran meluas.
Lahan yang terdampak kebakaran terdiri dari berbagai jenis kawasan, mulai dari kebun sawit masyarakat, semak belukar hingga lahan yang belum tergarap. Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan maupun penanganan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah Kecamatan Seranau terus memperkuat koordinasi dengan TNI-Polri, masyarakat adat dan warga. Dukungan PT RMU turut membantu memenuhi kebutuhan operasional Satgas selama berada di lapangan.
Damang dan Batamad juga dilibatkan dalam membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar.
Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan penting dalam menghadapi karhutla di Seranau. Terlebih kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut yang membutuhkan penanganan tidak hanya saat api berkobar, tetapi juga setelah api berhasil dipadamkan.
Pemadaman yang dilanjutkan pendinginan dan pengawasan bersama diharapkan mampu mengendalikan kebakaran sekaligus mencegah munculnya kembali titik api.
Di tengah luasnya kawasan yang terdampak, gotong royong pemerintah, aparat, masyarakat dan dunia usaha menjadi salah satu kekuatan utama untuk menekan dampak karhutla terhadap lingkungan, kesehatan, ekonomi dan aktivitas warga. (GS)












