Kepala Puskesmas Baamang 1, Fuji Wahyudi
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi perhatian di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Puskesmas Baamang 1 memperkuat kesiagaan pelayanan kesehatan untuk masyarakat.
Petugas kesehatan disiagakan selama 24 jam sebagai bentuk kesiapan menghadapi kemungkinan meningkatnya keluhan kesehatan, terutama gangguan saluran pernapasan. Puskesmas juga menyediakan ruang oksigen yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis apabila membutuhkan.
Kepala Puskesmas Baamang 1, Fuji Wahyudi, mengatakan kesiagaan tersebut tetap dilakukan meskipun kondisi kabut asap dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan penurunan.
“Memang beberapa hari terakhir kabut asap sudah agak melandai, tetapi kami tetap siaga 24 jam kalau ada masyarakat yang memerlukan oksigen,” kata Fuji.
Kesiagaan tidak hanya dilakukan di dalam puskesmas. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan BPBD Kotim untuk mendukung para relawan yang berada di lapangan.
Sejumlah tenaga kesehatan disiapkan di posko karhutla BPBD dan bertugas secara bergantian selama masa tanggap darurat. Langkah tersebut dilakukan agar kondisi kesehatan para relawan yang bekerja di lokasi karhutla tetap mendapat perhatian.
“Tenaga kesehatan ini disiagakan di posko karhutla di BPBD. Ada beberapa puskesmas yang disiagakan dan dilakukan pergantian selama masa tanggap darurat,” ujarnya.
Sementara itu, dampak terhadap kesehatan masyarakat terus dipantau. Puskesmas Baamang 1 mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam sepekan terakhir.
Fuji menyebut, jumlah kasus yang ditangani meningkat dari 27 orang pada pekan sebelumnya menjadi 53 orang dalam sepekan terakhir.
“Kalau minggu yang lalu ada 27 orang, menjadi 53 orang. Itu sudah lumayan signifikan,” ungkapnya.
Kelompok usia 18 hingga 59 tahun menjadi kelompok yang lebih dominan mengalami keluhan ISPA. Sedangkan kasus pada anak-anak disebut masih relatif sedikit.
Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap kelompok rentan terus diperkuat, terutama masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti asma maupun gangguan pernapasan lainnya.
“Yang lebih kami pantau adalah orang yang punya penyakit penyerta, seperti asma atau pneumonia. Itu yang kami pantau ketat,” jelas Fuji.
Meski kasus ISPA mengalami peningkatan, hingga saat ini Puskesmas Baamang 1 belum menemukan kasus pneumonia dalam pemantauan tersebut. Namun, beberapa pasien dengan keluhan asma telah mendapatkan perawatan, termasuk penanganan menggunakan nebulizer.
Selain memberikan pelayanan pengobatan, puskesmas juga memperkuat langkah pencegahan. Masker yang baru diterima akan segera didistribusikan kepada masyarakat, termasuk pasien yang datang mendapatkan pelayanan.
Pemberian masker kepada pasien juga menjadi upaya untuk mengurangi risiko penularan penyakit saluran pernapasan, mengingat keluhan seperti batuk dan pilek dapat menular.
“Kami juga mengakomodasi pasien-pasien yang ada di Puskesmas Baamang 1. Rata-rata mereka datang dengan ISPA, seperti batuk dan pilek yang juga bisa menular. Jadi untuk mengantisipasi penularan lebih lanjut, kami juga distribusikan masker kepada pasien,” tuturnya.
Pelayanan kesehatan juga tidak hanya dipusatkan di Puskesmas Baamang 1. Masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan pembantu di wilayah Baamang yang turut disiagakan dengan petugas dan dukungan logistik obat-obatan.
Fuji memastikan pihaknya tetap membuka akses pelayanan bagi masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan akibat paparan kabut asap.
“Bagi masyarakat yang terdampak kabut asap dan mengeluh masalah kesehatan, silakan datang ke Puskesmas Baamang 1, akan kami layani,” tegasnya.
Kesiagaan selama 24 jam tersebut menjadi bagian dari upaya Puskesmas Baamang 1 menjaga akses pelayanan kesehatan tetap tersedia bagi masyarakat, sekaligus memberikan dukungan kepada relawan yang berada di garis depan penanganan karhutla di Kotim. (Sg)












