Kepala SMAN 2 Sampit, Drs. Kodarahim
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut memengaruhi aktivitas pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Kondisi tersebut membuat SMAN 2 Sampit mengambil langkah penyesuaian dengan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi murid.
Kebijakan itu bukan berarti aktivitas belajar dihentikan. Sebaliknya, sekolah berupaya memastikan proses pendidikan tetap berjalan meski kegiatan belajar untuk sementara dialihkan dari ruang kelas ke rumah masing-masing murid.
Penerapan PJJ tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 400.3.13.1/4747/DISDIK.SET.03/2026 tentang pelaksanaan PJJ atau pembelajaran daring pada satuan pendidikan yang berada di daerah terdampak kabut asap.
Langkah tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara yang dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama apabila murid tetap melakukan aktivitas di lingkungan sekolah dalam kondisi udara yang tidak sehat.
Kepala SMAN 2 Sampit, Drs. Kodarahim, mengatakan sekolah berkomitmen menjaga agar hak murid untuk memperoleh layanan pendidikan tetap terpenuhi selama kebijakan PJJ diberlakukan.
Menurutnya, sekolah harus mampu beradaptasi dengan kondisi yang terjadi. Di satu sisi kesehatan dan keselamatan murid menjadi perhatian utama, sementara di sisi lain proses pembelajaran tetap harus berjalan.
“Pembelajaran tetap kita laksanakan. Anak-anak tetap mendapatkan materi dan mengikuti kegiatan belajar, hanya pola pelaksanaannya yang menyesuaikan dengan kondisi,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).
Untuk memastikan PJJ berjalan terarah, sekolah melakukan koordinasi dengan seluruh guru dan wali kelas. Jadwal pembelajaran yang telah ditetapkan tetap menjadi acuan, namun guru diberikan ruang untuk menyesuaikan metode maupun beban pembelajaran dengan kondisi murid selama belajar dari rumah.
Sekolah juga tidak ingin PJJ hanya berubah menjadi kegiatan pemberian tugas kepada murid. Interaksi antara guru dan murid tetap menjadi bagian penting agar proses pembelajaran tidak kehilangan esensinya.
Guru didorong menyampaikan materi secara sederhana, menarik dan mudah dipahami. Murid juga tetap diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi maupun menyampaikan kendala yang mereka hadapi selama mengikuti pembelajaran dari rumah.
“Yang kita jaga bukan hanya materi pembelajarannya, tetapi juga interaksi antara guru dan murid. Jangan sampai anak-anak hanya menerima tugas, kemudian selesai. Mereka tetap harus mendapatkan pendampingan dalam proses belajar,” jelas Kodarahim.
Dalam pelaksanaannya, SMAN 2 Sampit memanfaatkan berbagai media pembelajaran daring. Salah satunya melalui Kelas Digital Huma Betang (KDBH) yang disediakan oleh Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah.
Guru dapat memanfaatkan video pembelajaran yang tertaut pada platform tersebut untuk membantu murid memahami materi. Selain itu, pembelajaran juga dapat dilakukan melalui pertemuan virtual menggunakan Zoom, diskusi interaktif, kuis hingga penugasan kreatif.
Metode pembelajaran kemudian disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan kondisi murid. Guru diberikan keleluasaan untuk memilih pendekatan yang dianggap paling efektif agar suasana belajar dari rumah tetap aktif dan tidak membosankan.
Tidak hanya pembelajaran berbasis materi, sejumlah kegiatan juga dapat dikemas dalam bentuk proyek sederhana, presentasi maupun pengamatan lingkungan sekitar yang aman dilakukan dari rumah.
Dengan metode yang lebih beragam tersebut, sekolah berharap murid tetap memiliki motivasi untuk mengikuti pembelajaran meskipun tidak berada di dalam kelas.
“Guru kita berikan keleluasaan untuk berinovasi. Intinya bagaimana anak-anak tetap aktif, tetap bersemangat dan materi pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik,” katanya.
Di sisi lain, sekolah menyadari pelaksanaan PJJ memiliki tantangan tersendiri. Tidak semua murid memiliki kondisi yang sama ketika belajar dari rumah. Kendala jaringan internet maupun keterbatasan perangkat dapat menjadi hambatan dalam mengikuti pembelajaran daring.
Karena itu, komunikasi antara sekolah dengan orang tua atau wali murid turut diperkuat. Wali kelas, guru wali dan guru mata pelajaran terus berkoordinasi untuk mengetahui perkembangan maupun kendala yang dialami murid.
Informasi mengenai jadwal, mekanisme serta kegiatan pembelajaran disampaikan kepada orang tua agar proses belajar anak tetap dapat dipantau selama berada di rumah.
Sekolah juga berupaya memberikan fleksibilitas apabila murid menghadapi kendala tertentu. Guru dan wali kelas melakukan pemantauan terhadap kehadiran serta partisipasi murid sehingga persoalan yang muncul dapat segera diketahui dan dicarikan solusi bersama.
“Kami memahami kondisi setiap anak berbeda. Karena itu, kalau ada kendala jaringan atau perangkat, tentu akan kita komunikasikan dan dicarikan solusi bersama. Yang penting anak tetap mendapatkan layanan pembelajaran,” ujarnya.
Menurut Kodarahim, dukungan orang tua juga menjadi bagian penting selama PJJ. Orang tua diharapkan dapat membantu menciptakan suasana belajar yang kondusif di rumah sekaligus tetap memperhatikan kondisi kesehatan anak selama kabut asap masih terjadi.
Sekolah mengingatkan agar kegiatan belajar tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing murid. Kesehatan tidak boleh diabaikan hanya karena mengejar target pembelajaran.
Penerapan PJJ sendiri diharapkan menjadi solusi sementara sampai kondisi udara kembali membaik. Sekolah berharap kabut asap yang muncul akibat karhutla segera terkendali sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan, dapat kembali normal.
“Kesehatan dan keselamatan murid merupakan prioritas utama. Kami berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga kualitas udara kembali sehat dan anak-anak bisa kembali belajar tatap muka dengan aman, nyaman dan kondusif,” tutur Kodarahim.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Sebab, dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat, termasuk pendidikan dan kesehatan.
“Kita berharap kondisi ini segera berlalu. Mudah-mudahan karhutla segera terkendali, udara kembali sehat, sehingga seluruh aktivitas pendidikan dapat berjalan normal dan anak-anak bisa kembali ke sekolah,” pungkasnya. (Sg)












