Kepala SMAN 3 Sampit, Mulyadi, S.Pd, M.M
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – SMAN 3 Sampit terus berupaya menjaga keberlangsungan proses pembelajaran di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Di tengah kondisi tersebut, keselamatan dan kenyamanan peserta didik menjadi pertimbangan utama sekolah dalam menentukan pola pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar tetap diupayakan berjalan, namun disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan situasi di lapangan.
Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 400.3.13.1/4747/DISDIK.SET.03/2026. Dalam edaran itu, satuan pendidikan di wilayah terdampak kabut asap dengan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tidak sehat hingga berbahaya diarahkan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran daring mulai 31 Agustus 2026.
Menyesuaikan kondisi tersebut, SMAN 3 Sampit menerapkan pola pembelajaran secara bergantian antara tatap muka di sekolah dan belajar dari rumah.
Kepala SMAN 3 Sampit, Mulyadi, S.Pd., M.M., mengatakan sekolah berusaha mencari pola pembelajaran yang tetap memberikan ruang bagi siswa untuk mendapatkan pendidikan secara optimal, namun tetap memperhatikan aspek keselamatan.
“Kami tentu sangat memperhatikan keselamatan dan kenyamanan anak-anak. Karena itu, setiap kebijakan yang kami ambil kami sesuaikan dengan kondisi di lapangan. Pembelajaran tetap kami upayakan berjalan, tetapi keselamatan siswa tetap menjadi prioritas utama,” ujar Mulyadi, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, penerapan pembelajaran secara bergantian menjadi salah satu cara sekolah menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembelajaran dan kondisi lingkungan yang sedang dihadapi.
Pada beberapa hari, siswa mengikuti pembelajaran dari rumah. Setelah itu, kegiatan kembali dilaksanakan secara tatap muka di sekolah. Dengan pola tersebut, siswa tetap memperoleh kesempatan berinteraksi langsung dengan guru, sekaligus tidak terus-menerus berada di lingkungan sekolah ketika kondisi udara kurang mendukung.
“Artinya, kita tetap tatap muka, kemudian belajar dari rumah, lalu tatap muka lagi. Kita selang-seling. Kalau tidak diselang-seling, kami khawatir anak-anak lepas, tidak mengikuti pelajaran dan akhirnya tidak belajar,” katanya.
Mulyadi menjelaskan, pembelajaran tatap muka masih dapat dilakukan selama kondisi memungkinkan. Sekolah memastikan kegiatan siswa lebih banyak berlangsung di dalam ruangan dan mengurangi aktivitas yang membutuhkan mereka berada di luar kelas.
“Di sekolah anak-anak tetap berada di dalam kelas. Kegiatan yang dilakukan di luar kita hentikan, termasuk olahraga yang menggunakan lapangan,” jelasnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menciptakan lingkungan belajar yang tetap kondusif. Guru juga terus diarahkan untuk menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi yang ada, sehingga siswa tetap dapat mengikuti materi pelajaran dengan baik.
Selain pola pembelajaran, SMAN 3 Sampit juga memberikan perhatian terhadap perjalanan siswa dari rumah menuju sekolah. Jam masuk sekolah disesuaikan untuk memberikan waktu yang lebih aman dan nyaman bagi siswa pada pagi hari.
Mulyadi mengatakan, sebelumnya jam masuk pada Senin dan Jumat pukul 06.15 WIB, sedangkan Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 06.30 WIB. Dalam kondisi kabut asap, sekolah menyesuaikannya menjadi pukul 07.00 WIB.
“Kalau untuk mengundurkan jam, kita juga harus manusiawi. Anak-anak ini pergerakannya dari rumah ke sekolah tetap melalui kabut. Jadi kita memberikan tenggang waktu agar perjalanan mereka lebih aman dan nyaman,” ujarnya.
Menurutnya, penyesuaian tersebut tidak hanya mempertimbangkan kondisi di lingkungan sekolah, tetapi juga perjalanan siswa. Sebab, proses pembelajaran yang baik harus diawali dengan memastikan peserta didik dapat datang ke sekolah dalam kondisi aman dan siap mengikuti pelajaran.
Mulyadi juga menyampaikan bahwa keputusan menerapkan pembelajaran secara bergantian tidak semata-mata karena kondisi udara, tetapi merupakan bagian dari upaya sekolah menjaga kedisiplinan dan kesinambungan belajar siswa.
Ia berkaca pada pengalaman sebelumnya ketika pembelajaran dari rumah berlangsung dalam waktu cukup panjang. Saat itu, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi siswa agar tetap mengikuti pembelajaran dengan baik.
“Pengalaman tahun kemarin, ketika satu semester belajar dari rumah karena rehab, ternyata anak-anak banyak yang ketiduran, malah tidak belajar. Jadi tantangannya memang di situ,” ungkapnya.
Karena itu, sekolah berupaya tidak hanya melihat satu sisi. Belajar dari rumah memang dapat menjadi pilihan ketika kondisi tidak memungkinkan, tetapi pembelajaran tatap muka juga tetap penting untuk menjaga interaksi antara guru dan siswa.
“Belajar di rumah maupun belajar di kelas hampir sama. Yang menjadi perhatian adalah perjalanan anak-anak dari rumah ke sekolah. Makanya jam masuk kita berikan tenggang waktu,” katanya.
Sejauh ini, SMAN 3 Sampit telah melaksanakan pembelajaran dari rumah selama dua hari, yakni Senin dan Rabu. Sementara pada hari lainnya, pembelajaran tatap muka tetap berlangsung dengan berbagai penyesuaian.
Di tengah kondisi cuaca yang masih kering, pihak sekolah berharap hujan segera turun sehingga kualitas udara kembali membaik dan kegiatan pendidikan dapat berjalan normal. Harapan tersebut juga diwujudkan melalui ikhtiar bersama.
SMAN 3 Sampit sebelumnya turut melaksanakan Salat Istisqa setelah menerima imbauan dari MUI Kabupaten Kotawaringin Timur. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk doa bersama agar kondisi cuaca segera membaik.
“Kemarin kami sudah melakukan Salat Istisqa untuk meminta hujan. Ada imbauan dari MUI Kabupaten dan langsung kami laksanakan. Kemudian ada lagi imbauan dari Dinas Provinsi untuk melaksanakan hal yang sama,” tutur Mulyadi.
Ia menegaskan, sekolah akan terus berkomitmen memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada siswa, meskipun harus beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Bagi Mulyadi, pendidikan tetap harus berjalan dengan menyesuaikan perkembangan zaman dan karakter peserta didik. Teknologi juga menjadi bagian penting dalam mendukung pembelajaran, tetapi tetap membutuhkan pendampingan dari guru dan orang tua.
“Komitmen kita, belajar itu sebenarnya tidak mengenal tempat dan waktu. Tetapi sekarang dunia anak-anak sudah terselimuti IT. Tantangannya, anak-anak kadang bukan belajar, tetapi malah bermain. Tantangannya di situ,” pungkasnya. (Sg












