Kepala SMAN 1 Sampit, M. Darma Setiawan, S.Pd.
SAMPIT.INDOBORNEONEWS– Kabut asap yang menebal di sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, tidak membuat aktivitas pendidikan di SMAN 1 Sampit terhenti. Sekolah menyesuaikan pola pembelajaran dengan kondisi udara, sekaligus memperkuat interaksi antara guru dan siswa agar proses belajar tetap berjalan efektif.
Ketika kualitas udara memburuk hingga kondisi yang tidak memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka, sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Namun, PJJ tidak sekadar diisi dengan pemberian tugas kepada siswa.
Kepala SMAN 1 Sampit, M. Darma Setiawan, S.Pd., mengatakan sekolah mengacu pada kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah dalam menentukan pola pembelajaran.
“Yang menjadi acuan utama kami adalah edaran dari kementerian dan pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Pendidikan. Ketika kabut tebal dan kondisi udara berbahaya, kami melaksanakan PJJ,” ujarnya, Senin (5/10/2026).
Menurut Darma, keputusan untuk melaksanakan PJJ maupun kembali ke pembelajaran tatap muka dilakukan dengan melihat perkembangan kondisi udara. Sekolah terus memantau situasi karena kabut asap dapat berubah dalam waktu singkat.
Bahkan, keputusan yang sebelumnya telah ditetapkan dapat langsung disesuaikan apabila kondisi di lapangan berubah.
“Kami pantau terus kondisinya. Pernah pagi hari kabut masih tipis dan pembelajaran tatap muka berjalan. Tetapi menjelang pukul 09.00 WIB kabut semakin tebal, sehingga saat istirahat pertama siswa langsung kami pulangkan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat sekolah menerapkan pola pembelajaran yang fleksibel. Siswa juga diminta memperhatikan kondisi udara di lingkungan tempat tinggal masing-masing sebelum berangkat ke sekolah.
“Walaupun di sekolah kondisinya terang, kalau di sekitar rumah siswa kabutnya pekat atau kondisi tubuh tidak sehat, jangan memaksakan diri. Silakan berkomunikasi dengan sekolah,” katanya.
Dalam pelaksanaan PJJ, kehadiran siswa tetap dipantau. Darma menyebut tingkat kehadiran siswa selama pembelajaran dari rumah berada di kisaran 90 persen lebih.
Namun, bagi sekolah, kehadiran bukan satu-satunya ukuran. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana menjaga interaksi belajar agar siswa tetap memahami materi meskipun tidak berada di ruang kelas.
Karena itu, guru didorong memperbanyak pembelajaran interaktif melalui diskusi dan tanya jawab secara daring. Dengan pola tersebut, siswa tetap dapat berkomunikasi langsung dengan guru dan menyampaikan pertanyaan terkait materi yang dipelajari.
“Sebagian besar guru justru melakukan pembelajaran yang interaktif, berupa diskusi dan tanya jawab. Jadi siswa tetap bisa menguasai materi yang diberikan,” tuturnya.
Sekolah juga mengurangi pemberian tugas yang berpotensi membebani siswa. Penugasan kelompok diminimalkan karena dikhawatirkan membuat siswa harus keluar rumah dan berkumpul dengan teman-temannya.
Darma menjelaskan, tujuan PJJ dalam kondisi kabut asap salah satunya adalah mengurangi aktivitas siswa di luar rumah. Karena itu, tugas yang diberikan lebih diarahkan pada pekerjaan individu maupun aktivitas yang dapat diselesaikan secara daring bersama guru.
“Kalau PJJ tujuannya agar anak-anak tidak banyak keluar rumah. Karena itu kami meminta guru seminimal mungkin memberikan tugas kelompok. Lebih baik tugas individu atau interaksi langsung antara guru dan siswa secara online,” ungkapnya.
Selain menyesuaikan pembelajaran, sekolah juga membatasi berbagai aktivitas siswa di luar ruangan. Kegiatan ekstrakurikuler untuk sementara dihentikan, termasuk aktivitas yang mengharuskan siswa berada di lapangan.
Pembelajaran olahraga pun disesuaikan dengan kondisi udara sehingga tidak dilakukan di luar ruangan ketika situasi tidak memungkinkan.
Penggunaan masker juga menjadi bagian dari upaya sekolah menjaga kesehatan warga sekolah. SMAN 1 Sampit turut menyiapkan oksigen di UKS sebagai langkah kesiapsiagaan apabila terdapat siswa maupun guru yang membutuhkan.
Di tengah kondisi tersebut, kegiatan akademik siswa kelas XII tetap mendapat perhatian. Sekolah saat ini juga mempersiapkan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), sehingga pembinaan dan bimbingan tetap dilaksanakan dengan pengaturan jadwal secara bergiliran.
“Untuk kelas XII kami tetap melakukan pembinaan dan bimbingan TKA. Jadwalnya kami atur dan digilir supaya persiapan mereka tetap optimal,” katanya.
Darma menegaskan, penyesuaian pola belajar bukan berarti sekolah mengurangi perhatian terhadap kualitas pendidikan. Sebaliknya, kondisi kabut asap menjadi momentum bagi sekolah untuk menerapkan pola pembelajaran yang lebih adaptif dengan tetap menjaga komunikasi antara guru dan siswa.
Sekolah juga meminta orang tua ikut memantau kondisi anak selama berada di rumah. Jika kondisi udara di lingkungan tempat tinggal tidak memungkinkan atau siswa mengalami gangguan kesehatan, orang tua diminta segera berkoordinasi dengan sekolah.
“Yang penting anak-anak tetap belajar, tetapi kesehatan juga harus dijaga. Jangan memaksakan diri keluar rumah kalau kondisi udara tidak memungkinkan. Ikuti informasi dari sekolah dan tetap berkomunikasi dengan guru,” pesannya. (Sg)












