Kepala SMAN 2 Sampit, Drs. Kodarahim
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Kabut asap yang kembali menyelimuti Sampit membuat aktivitas masyarakat harus beradaptasi. Bagi dunia pendidikan, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama ketika kualitas udara pada pagi hari belum memungkinkan untuk aktivitas di luar ruangan.
Namun, SMAN 2 Sampit memilih tidak berhenti pada keadaan. Sekolah menyiapkan pola pembelajaran yang fleksibel agar kegiatan belajar tetap berjalan, sekaligus memastikan kesehatan dan keselamatan siswa maupun guru tetap menjadi pertimbangan utama.
Kepala SMAN 2 Sampit, Drs. Kodarahim, mengatakan pihaknya menyesuaikan kegiatan pendidikan dengan kondisi udara di sekitar sekolah.
Hal itu sejalan dengan kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah yang memberikan penyesuaian layanan pendidikan bagi satuan pendidikan di wilayah terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kalau memang kondisi udara sangat parah dan tidak memungkinkan, kami lakukan PJJ. Tetapi kalau masih memungkinkan, kami bisa menyesuaikan waktu masuk sekolah,” kata Kodarahim, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, sekolah tidak serta-merta menerapkan PJJ setiap kali kabut asap muncul. Kondisi di lapangan menjadi salah satu dasar dalam menentukan pola pembelajaran.
Pada kondisi normal, aktivitas pembelajaran di SMAN 2 Sampit dimulai sekitar pukul 06.30 WIB. Namun, ketika pagi hari masih diselimuti asap pekat, waktu masuk dapat disesuaikan.
Langkah tersebut dilakukan agar siswa tidak harus berada di luar ruangan ketika kondisi udara belum mendukung. Sekolah terus melihat perkembangan keadaan hingga dinilai cukup memungkinkan untuk memulai aktivitas pembelajaran.
“Misalnya jam 08.00 udara sudah lebih bersih, anak-anak tetap kami lanjutkan pembelajarannya. Tentunya tetap menggunakan masker. Jadi kami menyesuaikan dengan kondisi pada saat itu,” ujarnya.
Pola tersebut menunjukkan bahwa sekolah berusaha mengambil jalan tengah. Pembelajaran tatap muka tetap dipertahankan ketika kondisi memungkinkan, tetapi kesehatan siswa tidak dikesampingkan.
Jika kondisi udara kembali memburuk, PJJ menjadi pilihan untuk menjaga pembelajaran tetap berlangsung dari rumah.
Bagi Kodarahim, PJJ bukan berarti kualitas pendidikan harus ikut menurun. Guru justru dituntut lebih kreatif dalam mengatur materi dan waktu pembelajaran agar tujuan belajar tetap tercapai.
“Karena waktunya lebih pendek dan sifatnya online, guru harus bisa menyiasati bagaimana pembelajaran tetap efektif. Yang penting komunikasi dengan anak-anak tetap berjalan,” jelasnya.
Guru juga tetap diarahkan untuk menjaga komunikasi dengan siswa selama pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, meskipun tidak berada dalam satu ruang kelas, interaksi pendidikan tetap terjaga.
Respons siswa terhadap pola pembelajaran tersebut juga terbilang baik. Kodarahim menyebut tingkat kehadiran siswa selama PJJ masih mencapai sekitar 95 persen.
“Kalau kehadiran sekitar 95 persen masih tercapai,” ungkapnya.
Tingkat kehadiran itu menjadi salah satu gambaran bahwa perubahan pola belajar tidak menyurutkan semangat siswa untuk tetap mengikuti pembelajaran.
Bagi siswa, ruang belajar mungkin bergeser dari ruang kelas ke rumah. Bagi guru, metode mengajar mungkin harus disesuaikan. Namun, tujuan pembelajaran tetap sama, yakni memastikan proses pendidikan tidak terputus akibat kondisi lingkungan.
Di tengah situasi tersebut, sekolah juga menaruh perhatian besar terhadap kesehatan siswa. Kodarahim mengingatkan agar siswa menjaga kondisi tubuh masing-masing selama kabut asap masih terjadi.
Siswa diminta tidak melakukan aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan. Ketika harus keluar atau datang ke sekolah, penggunaan masker menjadi bagian penting dari upaya perlindungan diri.
“Anak-anak tetap menyiapkan diri dan menjaga kondisi kesehatan dari rumah. Kalau tidak perlu, jangan keluar rumah. Kemudian kalau ke sekolah, gunakan masker. Peran orang tua juga sangat penting,” pesannya.
Menurut Kodarahim, dukungan orang tua menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pembelajaran. Orang tua diharapkan turut memastikan anak tetap mengikuti kegiatan belajar ketika PJJ diberlakukan, sekaligus memperhatikan kondisi kesehatan mereka.
Sekolah sendiri terus melakukan penyesuaian berdasarkan situasi. Tidak ada keharusan untuk mempertahankan satu pola ketika kondisi lingkungan berubah.
Jika udara memungkinkan, siswa dapat kembali belajar di sekolah. Jika kondisi belum mendukung, pembelajaran dapat dilakukan dari rumah.
Fleksibilitas tersebut menjadi cara SMAN 2 Sampit menjaga agar aktivitas pendidikan tetap memiliki kesinambungan di tengah situasi kabut asap.
Sekolah juga berupaya agar perubahan pola belajar tidak membuat siswa kehilangan ritme. Komunikasi guru dan siswa tetap dijaga, materi pembelajaran terus diberikan, sementara aspek kesehatan menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan.
Bagi SMAN 2 Sampit, kondisi kabut asap adalah tantangan yang harus dihadapi dengan kesiapan dan ketenangan. Sekolah tidak memilih menyerah pada keadaan, melainkan mencari cara agar proses pendidikan tetap dapat berlangsung dengan aman.
Jam belajar bisa bergeser. Ruang belajar bisa berpindah. Metode pembelajaran bisa berubah. Namun semangat SMAN 2 Sampit untuk memastikan siswa tetap belajar tidak ikut berubah. (Sg).












