SMAN 1 Cempaga Siap Melaksanakan Kebijakan Tepat Disdik Kalteng, Kelas Digital Huma Betang Jadi Andalan Pembelajaran

Kepala SMAN 1 Cempaga, Muhamad Toyep, S.Pd., M.Pd

SAMPIT.INDOBORNEONEWS – SMAN 1 Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menunjukkan kesiapan dalam melaksanakan kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah terkait penyesuaian layanan pendidikan di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR) menjadi langkah yang diterapkan sekolah untuk memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk belajar dari lingkungan yang lebih aman ketika kondisi kualitas udara belum mendukung pembelajaran tatap muka secara normal.

Banner Website

Bagi SMAN 1 Cempaga, pelaksanaan BDR bukan berarti aktivitas pendidikan berhenti. Sebaliknya, proses pembelajaran tetap diarahkan berjalan sesuai jadwal, materi dan tujuan pembelajaran yang telah disiapkan guru.

Penerapan tersebut mengacu pada Surat Edaran Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 400.3.13.1/4747/DISDIK.SET.03/2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan.

Kepala SMAN 1 Cempaga, Muhamad Toyep, S.Pd., M.Pd., mengatakan sekolah siap melaksanakan kebijakan yang ditetapkan pemerintah melalui Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah.

Menurutnya, penyesuaian pola pembelajaran merupakan langkah yang tepat untuk menjaga kesinambungan pendidikan sekaligus mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kesehatan peserta didik.

“Kami siap melaksanakan kebijakan tersebut. Selama tiga hari kami melaksanakan BDR dan kegiatan pembelajaran tetap berjalan. Kami juga melakukan evaluasi terhadap prosesnya serta melihat perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Muhamad Toyep, Jumat (4/9/2026).

Dalam pelaksanaan BDR, SMAN 1 Cempaga mengandalkan Kelas Digital Huma Betang. Platform pembelajaran tersebut menjadi salah satu sarana penting bagi sekolah dalam menjaga proses belajar tetap berjalan meskipun siswa tidak berada di ruang kelas.

Kelas Digital Huma Betang dinilai memberikan kemudahan bagi guru dalam menyampaikan materi, memberikan tugas hingga memantau aktivitas pembelajaran siswa. Dengan demikian, proses belajar dari rumah tetap memiliki arah dan mekanisme yang jelas.

“Kami sangat mengapresiasi Kelas Digital Huma Betang. Aplikasi ini sangat membantu. Guru-guru di sekolah benar-benar merasakan manfaatnya karena pembelajaran tetap bisa berjalan meskipun kondisi mengharuskan siswa belajar dari rumah,” katanya.

Menurut Muhamad Toyep, fleksibilitas menjadi salah satu keunggulan yang dirasakan selama pelaksanaan BDR. Di satu sisi siswa dapat mengikuti pembelajaran dari rumah, sementara di sisi lain guru tetap memiliki kontrol terhadap proses belajar.

“Fleksibilitasnya tinggi, tetapi kontrolnya juga tetap ada. Selama BDR, siswa bisa melakukan absensi melalui aplikasi dan guru dapat memantau proses pembelajaran,” jelasnya.

Pemanfaatan platform digital tersebut juga membuat kegiatan belajar lebih terorganisasi. Guru dapat menyesuaikan metode pembelajaran maupun beban tugas dengan situasi yang dihadapi siswa, sehingga pelaksanaan BDR tetap memperhatikan efektivitas dan kondisi peserta didik.

Aktivitas pembelajaran selama BDR juga dipantau dan dilaporkan melalui laman Kelas Huma Betang, termasuk pada bagian Posko Karhutla. Mekanisme tersebut membantu sekolah memastikan kegiatan pembelajaran terdokumentasi sekaligus menjadi bahan evaluasi.

Setelah tiga hari melaksanakan BDR, sekolah kembali melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran serta perkembangan kondisi kualitas udara. Dari hasil evaluasi tersebut, sekolah menilai kondisi mulai memungkinkan untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Meski demikian, kembalinya siswa ke sekolah tidak dilakukan dengan pola seperti kondisi normal. SMAN 1 Cempaga tetap melakukan sejumlah penyesuaian sebagai langkah kehati-hatian menghadapi kondisi kabut asap.

Penyesuaian antara lain dilakukan terhadap waktu masuk sekolah. Jika dalam kondisi normal siswa masuk sekitar pukul 06.45 WIB, kini waktu masuk digeser menjadi pukul 08.00 WIB.

Durasi pembelajaran juga dipersingkat. Setiap satu jam pelajaran disesuaikan menjadi sekitar 30 menit agar kegiatan pendidikan tetap dapat berlangsung dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan.

“Kalau kondisi normal, siswa masuk sekitar pukul 06.45 WIB. Sekarang kami sesuaikan menjadi pukul 08.00 WIB. Jam pelajaran juga disesuaikan, satu jam pelajaran menjadi sekitar 30 menit,” tuturnya.

Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari langkah sekolah dalam memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan secara terukur. Sekolah berupaya menjaga keseimbangan antara keberlangsungan pembelajaran dengan kondisi kesehatan dan keselamatan peserta didik.

Bagi SMAN 1 Cempaga, penerapan BDR sekaligus menjadi pengalaman penting dalam memperkuat pemanfaatan teknologi untuk mendukung pembelajaran. Kelas Digital Huma Betang memberikan ruang bagi guru dan siswa untuk tetap terhubung dalam proses pendidikan ketika pembelajaran tatap muka harus disesuaikan.

Meski pembelajaran tatap muka telah kembali dilaksanakan dengan penyesuaian, sekolah tetap mengingatkan siswa agar mengutamakan kesehatan. Peserta didik diminta mengikuti arahan sekolah, guru dan keluarga, menggunakan masker serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara kembali memburuk.

“Yang paling utama adalah menjaga kesehatan. Setelah itu tetap belajar karena belajar adalah tugas utama siswa. Tetap ikuti arahan sekolah, guru dan keluarga, termasuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ketika kondisi udara tidak baik,” pungkasnya.

Muhamad Toyep menegaskan, seluruh langkah yang dilakukan SMAN 1 Cempaga dalam menyesuaikan proses pembelajaran merupakan bagian dari pelaksanaan kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan. Sekolah siap menjalankan setiap kebijakan sesuai kebutuhan kondisi di lapangan.

“Pada prinsipnya, semua langkah yang kami ambil ini mengikuti petunjuk dan arahan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah. Kami siap melaksanakan kebijakan dan arahan tersebut agar proses pendidikan tetap berjalan dengan baik, sekaligus tetap memperhatikan kondisi siswa,” tegasnya.

Dengan langkah tersebut, SMAN 1 Cempaga menunjukkan bahwa keberlangsungan pendidikan tetap menjadi perhatian utama. Adaptasi pembelajaran, pemanfaatan Kelas Digital Huma Betang serta penyesuaian kegiatan tatap muka menjadi bagian dari upaya sekolah menjalankan layanan pendidikan secara fleksibel, terukur dan sesuai dengan petunjuk serta arahan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah. (Sg)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *