Kepala SMAN 2 Sampit, Drs. Kodarahim
SAMPIT.INDOBORNEONEWS– Kepedulian terhadap masa depan generasi muda terus menjadi perhatian dunia pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalimantan Tengah. Salah satunya melalui penguatan edukasi dan pembinaan kepada pelajar agar terhindar dari berbagai perilaku berisiko, termasuk penyalahgunaan zat adiktif seperti menghirup lem dan mengonsumsi minuman keras (miras).
Kepala SMAN 2 Sampit, Drs. Kodarahim, menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kesadaran diri, serta kemampuan siswa dalam menentukan pergaulan yang sehat.
Menurutnya, langkah pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui edukasi yang terarah dan berkelanjutan. Sekolah memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai bahaya narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, termasuk dampak penggunaan zat inhalan seperti lem.
Materi edukasi tersebut dapat diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran, seperti Biologi, Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, serta Pendidikan Pancasila. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengetahui larangan, tetapi juga memahami alasan kesehatan, moral, dan sosial di balik pentingnya menjauhi perilaku tersebut.
Kodarahim menjelaskan, kebiasaan menghirup lem dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan, mulai dari gangguan fungsi otak dan sistem saraf hingga risiko gangguan jantung dan kematian mendadak. Sementara konsumsi minuman keras juga dapat merusak organ tubuh serta memengaruhi perkembangan emosional remaja.
“Edukasi harus mampu membangun kesadaran dari dalam diri siswa. Mereka perlu memahami bahwa menjaga kesehatan, memilih lingkungan pergaulan yang baik, dan menjauhi zat berbahaya merupakan bagian dari upaya mempersiapkan masa depan,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Selain pembelajaran di kelas, sekolah juga dapat memperkuat pendidikan karakter melalui kegiatan motivasi, pengembangan diri, serta pembekalan wawasan mengenai cita-cita dan peluang masa depan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong siswa lebih percaya diri dalam mengembangkan potensi dan meraih prestasi.
Di sisi lain, Kodarahim menilai keberhasilan pendidikan karakter membutuhkan dukungan keluarga. Pengawasan terhadap anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah selama kegiatan belajar mengajar, tetapi juga memerlukan perhatian orang tua ketika siswa berada di luar lingkungan pendidikan.
Karena itu, komunikasi antara wali kelas dan orang tua perlu terus dibangun. Pemanfaatan grup komunikasi maupun buku penghubung dapat membantu memastikan informasi mengenai aktivitas dan kepulangan siswa tersampaikan dengan baik.
Sinergi lintas sektor juga menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya pencegahan. Sekolah dapat menjalin kerja sama dengan kepolisian, Badan Narkotika Kabupaten (BNK), Satpol PP, serta puskesmas melalui penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, dan kegiatan edukasi secara berkala.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih luas sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang pelajar. Termasuk melalui pengawasan bersama di lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya anak-anak setelah jam sekolah.
Meski demikian, bagi siswa yang membutuhkan penanganan khusus, pendekatan pembinaan tetap menjadi prioritas. Sekolah dapat mengoptimalkan peran guru Bimbingan Konseling (BK), melakukan pendampingan psikologis, serta melibatkan orang tua untuk mengetahui faktor yang memengaruhi perilaku anak.
Kodarahim menilai setiap siswa memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Oleh sebab itu, pendekatan edukatif dan humanis perlu dikedepankan agar anak tetap mendapatkan ruang untuk berkembang dan melanjutkan pendidikan.
“Pembinaan harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Sekolah, siswa, dan orang tua perlu berjalan bersama agar anak mendapatkan pendampingan, pengawasan, serta kesempatan memperbaiki diri,” tegasnya.
Melalui penguatan pendidikan karakter, edukasi kesehatan, dan kerja sama dengan berbagai pihak, SMAN 2 Sampit berharap para pelajar di Kabupaten Kotim semakin memiliki kesadaran untuk menjaga diri dari pengaruh negatif lingkungan.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen dunia pendidikan di Kalimantan Tengah dalam mencetak generasi muda yang sehat, berkarakter, berprestasi, dan memiliki kesiapan menghadapi masa depan. (S)












