Sawit di Kotim
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai membayangi pendapatan petani di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Harga jual yang kini berada di kisaran Rp2.500 hingga Rp2.600 per kilogram membuat hasil kebun tidak lagi memberikan pemasukan sebesar sebelumnya.
Kondisi tersebut semakin dirasakan petani karena penurunan harga tidak diikuti dengan berkurangnya biaya produksi. Berbagai kebutuhan untuk mengelola perkebunan tetap harus dipenuhi, mulai dari pembelian pupuk, obat pembasmi gulma, biaya panen hingga pengangkutan hasil kebun.
Bagi petani yang menjadikan sawit sebagai sumber penghasilan utama, perubahan harga tersebut cukup berpengaruh terhadap kondisi ekonomi keluarga. Pendapatan dari hasil panen harus dibagi untuk berbagai keperluan, baik kebutuhan rumah tangga maupun biaya mempertahankan produktivitas kebun.
Warga Sampit, Ali, mengatakan harga sawit yang saat ini berkisar Rp2.500 hingga Rp2.600 per kilogram mengalami penurunan harga sebelumnya di kisar Rp2.800 per kilogram, membuat petani harus lebih cermat mengatur keuangan. Pasalnya, penghasilan yang diterima dari penjualan buah sawit semakin terbatas, sedangkan pengeluaran sehari-hari tetap berjalan.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi petani bukan hanya penurunan harga jual. Tingginya biaya perawatan juga menjadi beban karena kebun harus tetap dikelola agar tanaman menghasilkan buah dengan baik.
“Kalau harga sudah turun seperti sekarang, hasil yang dibawa pulang tentu ikut berkurang. Padahal, untuk mengurus kebun tetap perlu modal. Pupuk harus dibeli, rumput dibersihkan, belum lagi biaya panen dan mengangkut buah,” ungkap Ali, Sabtu (30/10/2026)
Ia menjelaskan, petani tidak bisa sepenuhnya mengurangi pengeluaran untuk perawatan. Jika kebun dibiarkan tanpa pemupukan dan pemeliharaan yang memadai, dampaknya bisa dirasakan pada produktivitas tanaman dan hasil panen berikutnya.
Situasi ini membuat petani harus mempertimbangkan setiap pengeluaran. Di satu sisi, perawatan kebun harus terus dilakukan agar produksi tidak merosot. Namun di sisi lain, harga jual yang melemah membuat kemampuan petani menyediakan modal menjadi semakin terbatas.
Bahkan, hasil penjualan sawit yang seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga harus kembali dialokasikan untuk membiayai kebun. Akibatnya, keuntungan bersih yang diterima petani semakin tertekan.
Ali berharap harga TBS dapat kembali meningkat dan lebih stabil. Menurutnya, harga yang layak sangat dibutuhkan agar pendapatan petani sebanding dengan tenaga serta biaya yang dikeluarkan selama mengelola perkebunan.
“Petani tentu berharap harga bisa kembali membaik. Jangan sampai hasil panen yang sudah diusahakan dengan biaya dan tenaga besar, tetapi uang yang diterima justru semakin sedikit. Kalau harga lebih stabil, kami juga bisa lebih tenang mengurus kebun dan memenuhi kebutuhan keluarga,” harapnya.
Ia juga berharap kondisi perdagangan kelapa sawit segera membaik sehingga petani kecil tidak terus menghadapi tekanan akibat naik turunnya harga komoditas tersebut.
Bagi petani sawit rakyat, harga jual menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberlangsungan usaha perkebunan. Ketika harga melemah sementara biaya produksi tetap tinggi, pendapatan yang tersisa semakin terbatas.
Kondisi itu membuat petani berharap perbaikan harga segera terjadi. Sebab, bagi sebagian masyarakat, kebun sawit bukan sekadar sumber pendapatan tambahan, melainkan tumpuan ekonomi keluarga yang harus terus dijaga keberlangsungannya. (S)












