Ilustrasi
SAMPIT.INDOBORNEONEWS – Belum selesai berjuang menghadapi kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kembali harus menanggung beban akibat pemadaman listrik bergilir. Udara yang kian tidak bersahabat belum juga memberi ruang bagi masyarakat untuk bernapas lega, sementara pasokan listrik yang terputus membuat aktivitas sehari-hari semakin sulit dijalani.
Di tengah asap yang menyelimuti lingkungan tempat tinggal, warga masih harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga, mempertahankan penghasilan, hingga menyelesaikan pekerjaan yang bergantung pada listrik. Bagi sebagian masyarakat, kondisi ini bukan sekadar gangguan kenyamanan, melainkan persoalan yang langsung menyentuh urusan perut.
Keluhan itu disampaikan Fajar, warga Sampit. Ia mengaku kondisi yang dihadapi masyarakat saat ini sudah cukup berat karena harus beraktivitas di tengah kabut asap. Pemadaman listrik yang kembali terjadi pun menambah kesulitan yang harus mereka hadapi.
“Sudah kita menghirup asap, listrik terus padam,” keluh Fajar, Rabu (14/10/2026).
Bagi Amrul, persoalan listrik bukan hanya tentang rumah yang mendadak gelap atau peralatan elektronik yang tidak bisa digunakan. Pasokan listrik yang terputus turut menghambat aktivitas berjualan, yang menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia mengaku kesulitan menyiapkan dagangan karena peralatan yang dibutuhkan tidak dapat digunakan saat listrik padam. Salah satunya blender untuk membuat es yang dijual kepada pelanggan.
“Matinya listrik ini menyulitkan untuk berdagang karena tidak bisa menggunakan alat elektronik seperti kulkas, blender, rice cooker dan lainnya,” ujarnya.
Gangguan tersebut membuat aktivitas usaha kecil yang seharusnya tetap berjalan untuk menghasilkan uang menjadi terhambat. Ketika listrik tidak tersedia, pekerjaan yang biasanya bisa dilakukan dalam waktu singkat terpaksa tertunda. Sementara itu, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi setiap hari.
Situasi ini membuat beban masyarakat terasa berlapis. Di satu sisi, mereka harus berhadapan dengan kabut asap akibat karhutla yang mengganggu aktivitas di luar rumah. Di sisi lain, ketika berupaya menjalankan usaha dan mencari penghasilan, pemadaman listrik justru menjadi hambatan tambahan.
Bagi warga yang mengandalkan penghasilan harian, waktu yang terbuang karena aktivitas usaha terhenti tentu menjadi persoalan tersendiri. Mereka tidak selalu memiliki pilihan untuk menghentikan pekerjaan dan menunggu keadaan kembali normal. Kebutuhan hidup tetap berjalan, meski situasi di sekitar mereka belum bersahabat.
Keluhan warga tersebut muncul ketika dampak karhutla di Kotim masih dirasakan di berbagai wilayah. Kabut asap menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kini, pemadaman listrik bergilir menambah panjang daftar kesulitan yang mereka rasakan.
Sementara itu, melalui pengumuman tertanggal 14 Oktober 2026, PLN ULP Sampit menyampaikan bahwa pemadaman bergilir dilakukan akibat gangguan pada sejumlah pembangkit yang berdampak terhadap sebagian pelanggan di wilayah kerjanya.
Dalam pengumuman tersebut, PLN mencantumkan sejumlah jadwal pemadaman untuk wilayah terdampak. Kecamatan Cempaga dan sejumlah desa di sekitarnya masuk dalam kelompok jaringan SDN01, meliputi Desa Sudan, Parit, Rubung Buyung, Baninan, Patai, Sungai Paring, Lubuk Ranggan, Banitan, Jemaras, Cempaka Mulia Barat, Cempaka Mulia Timur, dan sekitarnya.
Pemadaman bergilir juga mencakup sebagian wilayah Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang, Kecamatan Kota Besi, sejumlah desa di wilayah Parenggean, serta beberapa kawasan lainnya di Kotim.
PLN ULP Sampit menyatakan terus mengerahkan sumber daya untuk mempercepat pemulihan gangguan dan meminimalkan dampak terhadap pelanggan.
Namun, bagi warga yang aktivitas dan penghasilannya bergantung pada ketersediaan listrik, pemulihan pasokan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda terlalu lama. Ketidakpastian waktu normalisasi dapat membuat masyarakat kesulitan mengatur pekerjaan, terlebih bagi pelaku usaha kecil yang harus menyesuaikan kegiatan dengan kondisi listrik.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat membutuhkan layanan kelistrikan yang kembali stabil agar beban akibat karhutla tidak semakin bertambah. Kepastian jadwal pemadaman dan informasi pemulihan juga penting supaya warga dapat mengatur aktivitas, terutama mereka yang menggunakan peralatan listrik untuk mencari nafkah.
Kabut asap dan pemadaman listrik menjadi dua persoalan yang datang bersamaan, membuat ruang gerak masyarakat semakin terbatas. Saat warga masih berusaha bertahan di tengah udara yang tercemar asap, mereka juga harus menghadapi pekerjaan yang terhambat dan penghasilan yang berpotensi terganggu.
Bagi masyarakat kecil, keadaan seperti ini bukan sekadar soal ketidaknyamanan. Ada dagangan yang harus disiapkan, pelanggan yang menunggu, dan kebutuhan keluarga yang tetap harus dipenuhi. Di tengah kepungan asap yang belum sepenuhnya teratasi, mereka hanya berharap listrik segera kembali normal agar upaya mencari nafkah tidak semakin sulit. (S)












